Breaking

Monday, 18 February 2019

Yang nyolong gue, yang disalahkan orang Jerman...


Jangan marah dulu, saya bukan menuduh, tapi saya hanya mau menganalogikan pernyataan Prabowo ketika “terciduk” oleh seluruh rakyat Indonesia, ternyata dia menguasai lahan sebesar 340.000 hektar di Kalimantan timur dan Aceh tengah. Tujuannya agar mudah dipahami saja.

Begini.. ada dompet tergeletak di meja rumah kawan saya. Di rumah itu cuma ada saya dan kawan tersebut. Dompet itu saya ambil dan saya kantongi. Perbuatan saya terekam CCTV. Ketika diinterogasi, saya bilang, daripada diambil warga Jerman, mending saya yang ambil!

Bagaimana bisa maling dari Jerman mengambil dompet sedangkan dia tidak bisa seenaknya masuk rumah ini? lalu siapa warga Jerman itu? ada dimana dia? Saya jawab, ya gak tau.. pokoknya daripada diambil warga negara Jerman, mending diambil saya yang warga negara Indonesia!

Lalu kenapa saya menuding warga negara Jerman? Ya agar saya tidak begitu malu karena ketahuan. Saya berharap, kawan saya bisa membenarkan dan tidak terlalu menyalahkan saya yang ketahuan maling. Bahkan kalau bisa agar saya dianggap heroik karena membawa-bawa nama negara.

Lalu dengan pongah saya mengatakan, ya sudah.. ini saya kembalikan. Masih untung saya selamatkan dompet ini, saya membela kamu sebenarnya, saya rela kok mengembalikannya. Kan dompet ini dompet kamu!

Tentu saja kawan saya dan keluarganya tidak bodoh, mereka akan bilang, giliran nyolong lu diam-diam saja, giliran ketahuan, orang Jerman yang lu salahin! Orang yang kalau datang ke negara ini saja harus melalui proses administrasi panjang, malah lu salahin karena lu ketahuan nyolong!

Kata ustadz saya, yang boleh kita salahkan atas perbuatan negatif yang kita lakukan hanyalah setan dan tentu diri kita sendiri. Karena perbuatan kita itu hasil bujuk rayu setan, dan kita yang bodoh karena bisa dibujuk setan. Bukan malah orang lain yang disalahkan! Itu tindakan para pengecut..

Kembali ke kasus Prabowo, 340 ribu hektar itu 5 kali luas Jakarta. Jadi bisa dibayangkan, jika tanah seluas itu oleh Jokowi dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan dan dibangun rumah, maka ada 47 juta rumah yang bisa dibangun. Jika dipotong dengan akses, maka ada 45 juta rumah rakyat.

45 juta rumah itu jika satu rumah di isi 4 orang dalam 1 keluarga, maka ada 180 juta rakyat Indonesia yang bisa memiliki lahan untuk tempat berteduh. artinya ada 72% dari 250 juta rakyat Indonesia yang bisa menempati lahan tersebut. Dan lahan itu dikuasai oleh 1 orang yang bernama Prabowo.

Jadi sangat ironis ketika Prabowo merendahkan Jokowi karena membagikan tanah kepada jutaan rakyat Indonesia, ternyata Prabowo malah menikmati tanah seorang diri yang seharusnya bisa dinikmati oleh 180 juta rakyat Indonesia. Tentu ironis tanah di Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang..

Prabowo mau merendahkan Jokowi dan bersiasat agar terlihat heroik, berlindung dibalik UUD 45 Pasal 33 ayat 3 “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”, kenyataannya malah sebaliknya.

Jokowi pergunakan tanah yang dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat, sedangkan Prabowo pergunakan tanah yang dikuasai negara untuk kemakmuran dirinya. Tindakan Jokowi yang direndahkan Prabowo malah mengamalkan Pasal 33, sedangkan Prabowo malah sebaliknya...

Dari analogi (abaikan soal nyolong) dan paparan ini, Jadi siapa yang sebenarnya melaksanakan amanat UUD 45? Jokowi atau Prabowo? Gak perlu saya jawab kan? 

No comments:

Post a Comment