Breaking

Sunday, 24 March 2019

Jokowi hanya bisa dikalahkan dengan cara mengintimidasi pemilih Jokowi agar tidak ke TPS dan membuat chaos


Berkali-kali saya sudah katakan baik di lapangan maupun di media sosial, Pemilih Jokowi itu sudah tetap dan pemilih Prabowo pun sudah tetap, tidak akan berubah, apalagi pemilihan tinggal sebulan lagi. Jokowi tetap ada di 54% ke atas dan Prabowo 32% ke bawah.

Artinya Pemilu sudah selesai dan Jokowi lanjut Periode kedua. Lalu, apakah ada cara lain untuk mengalahkan Jokowi? tentu saja ada. Satu-satunya cara agar Jokowi bisa kalah adalah dengan membuat pendukung Jokowi tidak datang ke TPS dengan cara membuat kerusuhan dan ketakutan.

Pertama, Mulai sebarkan isu bahwa Jokowi dan KPU bekerjasama, itu untuk membuat masyarakat yang kontra Jokowi marah. Jadi untuk menyebarkan ketakutan, dibutuhkan orang-orang marah sebagai alat untuk menakut-nakuti dan membuat rusuh. 

Selain isu KPU curang, tentu membuat dan menyebarkan berbagai berita bohong lainnya seolah-olah Jokowi melakukan berbagai tindakan negatif. Sewa oknum ormas dan sewa tim media sosial untuk menyebarkan berita bohong 24 jam sehari. Itu hal yang wajib disiapkan dan dilakukan. 

Kedua, Bentrok harus diciptakan sebelum 17 April 2019, sebelum pelaksanaan pemilihan. Suasana dibuat mencekam dan berharap pemerintah membuat status keadaan darurat secara nasional. Hawa ketakutan disebar di media sosial dan oleh para oknum ormas. 

Ketiga, Sebarkan isu bahwa TPS akan dikepung kontra Jokowi, mereka akan membawa yel-yel yang menakutkan yang berpotensi terjadi bentrok. Jika KPU melarang, maka masyarakat yang emosional itu akan bergerak untuk membuat tindakan yang bisa menyebabkan bentrok sebelum Pemilihan.

Kalau tidak terjadi bentrok sebelu pemilihan, maka disebarkan secara masif bahwa tiap TPS akan dikepung karena Jokowi dan KPU curang, mulai propaganda, menyebarkan foto dan video persiapan orang-orang yang akan menduduki TPS, agar pemilih Jokowi ketakutan.

Pokoknya jika tidak terjadi bentrok, maka yang harus dilakukan adalah menyebarkan propaganda ketakutan secara masif, sehingga bayangan suasana TPS mencekam akan menghantui setiap pendukung Jokowi. Dengan harapan, pendukung Jokowi tidak ke TPS daripada mereka kenapa-kenapa. 

Jadi ada 3 hal, Pertama adalah menciptakan pemilih menjadi emosional. Kedua membuat bentrok sebelum pemilihan. Ketiga, menyebarkan ketakutan agar pemilih jokowi tidak ke TPS, dan yang terakhir adalah membuat kerusuhan di tiap TPS yang dimenangkan oleh Jokowi. 

Jika semua cara dilakukan tetap tidak membuat pemilih Jokowi takut, maka yang terakhir adalah mempermasalahkan dan membuat keributan di TPS. TPS akhirnya bermasalah dan minta diulang. Hal ini mereka lakukan di berbagai tempat di seluruh pelosok negeri, agar terlihat banyak kecurangan. 

Harus ribut dan bentrok di TPS agar supaya pemilihan diulang di tiap TPS yang dimenangkan jokowi. Tujuannya tentu bukan untuk memilih ulang tapi untuk membuat gelombang kerusuhan dimana-mana lalu mendesak untuk membatalkan Pemilu. Ini langkah terakhir agar Jokowi tidak jadi Presiden.

Kalau Pemilu batal, tidak diatur di UU ada Pemilu ulang, maka negara chaos. Ini yg memang diinginkan oleh kelompok radikal. Mereka ingin menumbangkan pemerintah untuk mengganti ideologi Pancasila. Dan chaos adalah tujuan kelompok radikal timur tengah yang ada di Indonesia.

Kalau sampai strategi menakut-nakuti di TPS dijalankan, Jangan takut, karena pengamanan dari pihak kepolisian di TPS sangat ketat, sehingga tidak bisa ada pihak lain yang bisa mencoba untuk mengintimidasi pemilih Jokowi. Itu tindak pidana yang diatur di dalam UU Pemilu. 

Pemilih Jokowi jangan sampai takut jika ada yang menyebarkan ketakutan seperti yang saya jelaskan. Bangsa ini terlalu mahal untuk diserahkan kepada pihak yang tunduk pada asing dan takut pada kelompok anti Pancasila. 

Harus kita lawan! 

No comments:

Post a Comment