Breaking

Wednesday, 10 April 2019

Debat Capres Cawapres sia-sia dan gagalnya mereka menakut-nakuti pemilih Jokowi ke TPS


Debat Capres-Cawapres sudah tidak ada gunanya lagi, karena semua sudah punya pilihan tetap. Baik memilih Jokowi, memilih Prabowo maupun yang antipati terhadap Pemilu. Tidak akan ada yang berubah, kecuali ada salah satu Capres ketahuan melakukan tindakan yang sangat-sangat tidak terpuji.

Meyakinkan pemilih untuk beralih dari Prabowo ke Jokowi atau pun sebaliknya, itupun sudah sia-sia, karena tidak akan mempengaruhi pilihan yang sudah ditetapkan. Kecuali, lagi-lagi kalau sampai Capres cawapres melakukan perbuatan yang sangat-sangat tercela, misalnya terbukti melakukan pemerkosaan.

Saling klaim bahwa jagoannya yang bakal menang, itu hanya untuk memuaskan libido saja, toh klaim tidak akan mampu merubah pilihan siapapun dan tidak akan merubah hasil pemilu nantinya. Hasil pemilu sebenarnya sudah ada, tinggal dituangkan dalam surat suara dan diadministrasikan.

Satu-satunya cara untuk merubah hasil yang sudah ada, dengan cara memperbanyak golput dari kubu pemenang. Bukan dengan cara debat di TV atau door to door meyakinkan orang untuk pindah pilihan dari Jokowi ke Prabowo misalnya. Itu hal yang sia-sia..

Semalam pihak anti Jokowi rapat khusus untuk menjalankan strategi memperbanyak golput di pihak Jokowi. Saya cukup bangga karena nama saya masuk dalam bahasan terkait bocornya strategi mereka yang saya paparkan di sini..

“Jokowi hanya bisa dikalahkan dengan cara mengintimidasi pemilih Jokowi agar tidak ke TPS dan membuat chaos”

Dalam rapat semalam, salah satu dari mereka bertanya, bagaimana teknis memantau TPS secara massal agar bisa membuat efek tidak nyaman bagi pemilih Jokowi untuk ke TPS? Pertanyaan itu dijawab oleh pimpinan rapat, bahwa yang bertanya seperti itu hanya orang bodoh.

Kalau kalian berbondong-bondong ke setiap TPS untuk menjaga TPS, lalu kalian kapan nyoblosnya di TPS masing-masing? Kalau kalian menjaga di TPS masing-masing, tentu efek ketakutannya tidak tercapai, karena kalian adalah orang yang dikenal di lingkungan tersebut. Kata sang pimpinan rapat.

Ini psywar, menebarkan ketakutan saja seolah-olah nanti akan ada segerombolan orang yang tidak dikenal yang akan memantau tiap TPS, sehingga menimbulkan efek ketakutan dan pemilih Jokowi mengurungkan untuk datang ke TPS. Itu tujuannya! bukan malah datang beneran! kata pimpinan rapat

Siang tadi tim saya yang berada disana berpesan, pendukung Jokowi jangan menanggapi isu ada sholat subuh bareng, ada dapur umum dan akan ada yang berbondong-bondong ke TPS, karena itu tujuan mereka. Semakin dibicarakan, maka semakin bagus penyebaran ketakutan tersebut.

Saya bilang, iya.. bagaimana bisa seluruh TPS mereka bergerombolan datang? selain mereka harus datangi TPS yang jauh dari kediaman mereka agar efek "orang tidak dikenal" tercapai, mereka tidak bisa nyoblos di tempat mereka karena subuh sudah harus sholat subuh di lokasi TPS yang mereka tuju.

Kalau setiap TPS dijaga orang tidak dikenal minimal 20 orang, maka jika dikali 810.329 TPS, total ada 16.206.580 orang pemilih Prabowo yang tidak mencoblos. Maka benar kalau pimpinan rapat itu bilang, yang bertanya itu bodoh. Karena untuk menakut-nakuti, akhirnya mereka yang rugi. 😄

Ya harus orang yang tidak dikenal kalau ingin menakut-nakuti, karena kalau yang menjaga TPS tetangga sendiri, apa yang ditakuti? apalagi satu TPS itu hanya berisi 1-2 RT. Tentu efek menakut-nakuti itu akan gagal. apalagi di tiap TPS ada polisi dan TNI, makin gak mungkin saja kan?

Masih ingat pola "menakut-nakuti" di Pilkada DKI? ada Tamasya Al Maidah? dimana peserta tamasya menjaga TPS itu rencananya orang dari luar DKI yang tidak punya hak memilih, sehingga tidak ada yang dirugikan. Tapi faktanya apa? gak ada peserta tamasya itu di TPS. 

Itu cuma Psywar

Jadi jelas ya, untuk merubah pemilih Jokowi ke Prabowo sudah tidak mungkin, maka yang dilakukan adalah menakut-nakuti agar pemilih Jokowi urung datang ke TPS. 

Sayangnya hal itu tidak bisa mereka lakukan.

No comments:

Post a Comment