Breaking

Wednesday, 24 April 2019

Segeralah bertobat dan berobat, Prabowo!


Bagaimana kita bisa tahu seseorang itu TERBUKTI curang atau tidak? 

Begini.., misalnya seorang atasan membaca laporan keuangan, ada pembayaran tagihan listrik sebesar 5 juta. Di cek secara online, ternyata tagihannya cuma 4 juta. Artinya ada anak buahnya yang berbuat curang.. 

Jadi, mengetahui curang itu, ketika ada data dari pihak lain yang bisa dibandingkan dengan data kita. Kalau berbeda, itu DIDUGA ada kecurangan. Tapi ketika belum ada laporan keuangan, lalu atasan sudah menuduh anak buahnya melakukan kecurangan, tentu itu atasan yang aneh. 

17 April 2019 adalah hari pencoblosan pilihan rakyat di TPS. Tak lama setelah itu, hasil Quick count keluar, tak lama dari hasil Quick count keluar, pihak Prabowo sudah mulai teriak-teriak mereka dicurangi. 

Apa dasar mereka teriak dicurangi? mereka membandingkan dengan data siapa? sedangkan saat itu pada tanggal 17 April 2019, KPU belum merilis data. Bukankah itu hal yang aneh? Teriak curang tanpa ada data? 

Sampai tanggal 23 April 2019, kurang lebih 20% data real count KPU masuk. Kalau TPS kita ada 810.329 TPS, artinya ada kurang lebih 162.000 data TPS yang sudah diinput. Pertanyaannya, ada berapa kecurangan atau salah input yang sudah diakui oleh KPU? ternyata tidak lebih dari 10 kasus, Itu pun sudah dikoreksi.

Anggaplah ada 10 kasus yang sudah diverifikasi oleh KPU benar ada kesalahan, artinya ada 0,00006% kasus kecurangan atau salah input dan sudah diperbaiki. Bagaimana cara hitungnya? mudah.. 10 TPS dibagi 160.000 TPS, maka hasilnya 0,00006% kesalahan yang sudah dikoreksi.

Jadi dari tanggal 17 April 2019 sampai 23 April 2019, Prabowo teriak-teriak dicurangi, itu hanya 0,00006%. itu pun bukan hanya kubu Prabowo yang dirugikan, ada juga kubu Jokowi yang dirugikan. Ada kesalahan input dari KPU daerah. Ada yang menguntungkan 01 ada juga yang menguntungkan 02. 

Clear ya, pertama, walaupun belum ada data pembanding, pihak 02 sudah berteriak curang. Kedua, Pihak 01 dan 02 dirugikan sebanyak 0,00006% akibat salah input. Tapi karena transparan, hal itu dapat dikoreksi, baik oleh pihak 01 maupun pihak 02. lalu masalahnya dimana?

Dengan kesalahan 0,00006%, apakah pantas Pemilu ini oleh kubu Prabowo dituduh penuh kecurangan yang terstruktur, masif dan sistematis? bahkan dituding brutal! Apakah pantas? Yang pantas disebut brutal adalah kubu Prabowo, mereka secara brutal dan membabi buta menuding terjadi kecurangan. 

Artinya ada unsur kesengajaan pihak 02 untuk membuat pemilu ini berantakan. Mereka buat strategi memframing bahwa telah terjadi kecurangan. Sayangnya, mereka terlalu bernafsu dan kurang cerdas. Karena data pembanding belum ada, mereka sudah menuduh ada kecurangan. 

Saya sudah pernah ingatkan Prabowo, saya katakan timnya kurang cerdas. Terbuktikan? Kalau mau buat framing curang itu, datanya sudah masuk dulu. Jangan ketika data belum masuk, sudah teriak, jadi ketahuan rencananya. Kalau tim yang cerdas, tentu tidak akan melakukan hal tersebut.

Saya sudah jelaskan dalam 2 paparan sebelumnya. Yang pertama terkait MK dan yang kedua soal pemantauan data TPS berjenjang. Kini saya jelaskan lagi soal kelemahan strategi prabowo dalam memframing Pemilu curang. Tujuannya apa? agar masyarakat tidak terprovokasi.

Ini paparan pertama, tentang kewenangan MK dalam memproses gugatan Pemilu. 

Ini paparan kedua, tentang rekapitulasi berjenjang dari tingkat Kecamatan sampai nasional, sehingga setiap kecurangan dapat dengan mudah terpantau. 

Lalu ada lagi ketidakcerdasan kubu Prabowo yang harus diketahui oleh publik, agar publik tidak terprovokasi dengan strategi bodoh ini. Pertanyaannya, kenapa Prabowo tidak mau transparan data real countnya? padahal KPU, Kubu 01 dan lembaga survey, semua datanya transparan.

Jawaban mereka, data itu disimpan untuk pembuktian nanti. Loh? bukankah data itu data publik yang tidak perlu dirahasiakan? Makanya saya katakan, Prabowo itu gak punya data, mereka gak punya saksi di TPS. Kalaupun ada, data tersebut sama seperti data KPU yang memenangkan Jokowi.

Analoginya, ada atasan yang menuduh pegawainya curang karena membayar listrik melebihi tagihan. Pegawainya punya bukti dari PLN, bahwa dia tidak curang. Ketika pegawainya meminta bukti dari PLN milik atasannya, sang atasan bilang ini rahasia! Seperti Itulah yang Prabowo lakukan..

Saya berani mengatakan Prabowo terindikasi kuat mau membuat kerusuhan di negara ini dengan menyebarkan berbagai kebohongan dan provokasi. Saya khawatir, untuk menuntaskan sakit hatinya, dia gunakan pola Tiji tibeh, Mati satu mati semua, dia kalah maka semua harus kalah.

Aparat harus bertindak, karena yang dilakukan Prabowo sudah diluar batas normal, sudah tidak sehat. Rakyat akhirnya saling serang satu dan lainnya. Tindakan Prabowo sudah tidak dapat dibenarkan lagi. Menyebarkan fitnah dan provokasi. Aparat harus hentikan hal ini. 

Saran saya ke Prabowo, berhentilah membalas sakit hati anda, karena itu penyakit. Dan bertobatlah, karena negara ini sudah begitu baik pada anda, jangan rusak negara ini dengan kemarahan atas ketidakmampuan diri anda. Jadi segeralah bertobat dan berobat, Prabowo! 

No comments:

Post a comment