Breaking

Sunday, 28 July 2019

Surya Paloh memungut suara yang dibuang Prabowo


Pertemuan antara Surya Paloh dan Anies Baswedan adalah pertemuan biasa jika tidak dipublikasikan, karena banyak tokoh bertemu tanpa sepengetahuan media. Kalau sampai dipublikasikan, tentu ini adalah pertemuan politik, ada pesan politik yang sengaja ingin disampaikan.

Analisis saya, Pertemuan Surya Paloh dengan Anies tidak ada urusan dengan Pilpres 2019, tidak ada urusan dengan koalisi. Jadi keliru jika ada yang marah dengan langkah surya paloh yang dihubungkan dengan Pilpres. Gak ada urusannya juga dengan pilpres 2024, karena ini urusannya dengan Pilkada!

Surya Paloh dikenal cukup cerdik dalam melihat peluang dan dia punya keberanian mengeksekusi peluang itu. Dia melihat ada suara mengambang, ada kelompok yang kehilangan induk, ada kelompok yang ditinggal oleh Prabowo. Kelompok yang sakit hati dengan sikap Prabowo yang mendadak Pro Jokowi.

Kelompok yang kehilangan arah ini sibuk mencari figur yang bisa mereka jadikan alat untuk bisa eksis. Mereka melihat Anies adalah orang yang bisa mereka jadikan alat untuk bisa eksis melakukan gerakan, entah motivasinya apa, yang pasti mereka temukan orang yang bisa dimanfaatkan.

Surya paloh memanfaatkan hal itu. Bertemu dengan Anies, maka suara kelompok yang kehilangan induk bisa dia arahkan. Tentu akan ada cost politik yang dikeluarkan, tapi suara yang dia dapat sudah jelas. Calon kepala daerah dari Nasdem, sudah pasti didukung oleh kelompok tersebut.

Apakah yang dilakukan Surya Paloh salah? tentu tidak, karena Pilkada itu butuh suara dan dia sudah punya modal suara yang bisa dia tawarkan ke bakal calon kepala daerah. Prabowo di Pilpres bisa menambah suara karena bekerjasama dan melebur dalam isu yang disuarakan kelompok tersebut.

Asas saling memanfaatkan pun terjadi, kelompok itu butuh support (saya gak bilang butuh makan ya) dan Surya Paloh butuh suara. Walaupun suara kelompok ini bukan yang tertinggi atau penentu saat mendukung Prabowo, tapi paling tidak Surya Paloh sudah punya tabungan suara dan tim sukses di setiap Pilkada.

Ini sama seperti bisnis, ada peluang yang belum digali atau ada lahan yang tidak dimanfaatkan, maka dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tentu saja perlu modal. Mana ada sih orang berbisnis gak pakai modal? Tapi yang ini untungnya udah kelihatan.

Inilah hebatnya Surya Paloh, tidak banyak yang bisa melihat peluang ini. Tentu dia tidak akan sampaikan hal ini ke publik, kalau dia sampaikan tentu bisa merusak dan menggagalkan rencananya. Ada kelompok yang kehilangan induk, maka dia manfaatkan untuk kepentingan Pilkada.

Apakah nanti Surya Paloh akan jadikan Anies Baswedan Calon Presiden 2024? tentu saja tidak. Karena garis perjuangan Surya Paloh berbeda 180 derajat dengan Anies. Apakah Surya Paloh akan ikut-ikutan seperti Prabowo melebur dengan isu yang dibawa kelompok yang kehilangan induk tersebut? tentu tidak.

Tentu saja Surya Paloh tidak akan pernah menyinggung dan mengutuk soal Khilafah dan Hizbut Tahrir selama memanfaatkan kelompok yang kehilangan induk tersebut, karena kalau dia melakukan itu, maka dia pun akan ditinggal oleh kelompok yang baru saja ditinggal oleh Prabowo tersebut.

Lihat sewaktu kubu 02 masih mesra dengan kelompok tersebut, mereka tidak pernah mengutuk khilafah dan Hizbut Tahrir. Mereka biarkan Jokowi dan rakyat berjibaku menolak khilafah dan Hizbut Tahrir, yang penting bisa memenangkan Prabowo. Surya Paloh mungkin bisa belajar dari kubu 02.

Ini adalah strategi kampanye Surya Paloh untuk kepentingan Pilkada, tidak ada urusan dengan Pilpres. Ini ada lahan suara yang menganggur, mau dimanfaatkan oleh Surya Paloh. Ini murni strategi untuk Pilkada, jadi jangan ada yang menganggap Surya Paloh berkhianat.

Surya Paloh adalah orang yang sangat setia dan mendukung setiap langkah Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Ini hanya strategi politik beliau untuk meraup suara tak bertuan pada Pilkada serentak ini. Hanya itu saja..

No comments:

Post a Comment