Breaking

Thursday, 5 September 2019

Belajarlah menjadi Indonesia, Tuhan tidak populer untuk diperdebatkan.


Ketika saya membaca polemik soal wisata halal dan sikap para pemuka agama ngawur beberapa tahun belakangan ini, saya langsung teringat masa kecil sampai remaja di Manado, Sulawesi utara. Dan saya berharap, mudah-mudahan kerukunan beragama dan keindonesiaan di sana masih tetap terjaga. 

Saya lahir dan besar dilingkungan non muslim. Saya setiap hari melihat salib, saya setiap saat melihat kebaktian, saya setiap hari mendengarkan lagu rohani dan saya setiap hari berinteraksi dengan non muslim, tidak ada sedikitpun terpikir soal agama lain selain yang saya anut sekarang ini. 

Kenapa? karena kita bukan tidak pernah mau membicarakan masalah agama, tapi mayoritas masyarakat di sana tidak pernah terpikir untuk membicarakan apalagi memperdebatkan masalah agama. Berantem itu karena masalah attitude saja, bukan karena agama, ras atau suku. Bukan tidak mau, tapi tidak terpikir..

Apakah dulu sudah ada model oknum pemuka agama ngawur? sudah.. dulu disebarkan lewat kaset, baik oknum yang beragama Islam maupun yang kristen, tapi itu tidak berpengaruh karena kita tidak tertarik masuk ranah private, di manado itu berlaku lakum dinukum waliyadin. Gak ada urusan sama agama..

Jadi kalau ada yang takut salib, sehingga mau murtad, berarti imannya, iman kampret. Hebatan saya, setiap hari telinga, mata, mulut (hafal lagu rohani), hidung saya dicekoki ajaran agama lain, tapi saya tidak pernah terfikir untuk pindah, karena memang kultur disana tidak mendukung kita berfikir hal itu. 

Saya makan satu meja dengan kawan non muslim yang memakan daging babi atau daging anjing dalam suatu acara. Apakah saya jadi murtad? engak! apakah saya makan makanan haram? engak! Karena disana, tempat makanan untuk muslim disediakan tersendiri.

Piring, sendok, gelas, tempat makan, alat potong, alat masaknya berbeda, dapurnya juga berbeda, yang masak juga berbeda. Yang menyatu itu hanya saat kami makan bersama-sama dimeja makan. Yang muslim ambil makanan ditempat muslim, yang non muslim ditempatnya sendiri, lalu makan bersama di satu meja.

Saat Natal yang muslim berkunjung ke non muslim, saat lebaran sebaliknya, rumah saya penuh dengan tamu non muslim, gak ada ketakutan gue jadi kristen dan gak ada ketakutan kawan-kawan yang datang lebaran untuk menjadi Islam. Kita kumpul, makan, minum dan ketawa-ketawa. 

Di manado ada yang namanya kampung arab dan kampung Islam, uniknya di depan persis kampung arab itu ada kampung cina, ada klentengnya, ada bau dupa. Jadi kalau ada acara tepekong, ngumpul orang turunan arab, turunan cina, mereka bergaul dan menikmati acara bersama, gak ada urusan haram-haraman. 

Kalau pawai obor 1 muharram, gak ada urusan dengan agama, yang non muslim ikut meramaikan, mereka happy karena malam-malam ada pawai obor, dan itu tidak membuat mereka jadi murtad dan pindah ke Islam. Mosok karena obor bisa pindah agama? masak karena salib bisa pindah agama? 

Hanya orang berhati dengki dan busuk yang membuat sesuatu hal yang tidak perlu menjadi masalah, dipermasalahkan. Menyebarkan kebencian terhadap ras, agama dan suku adalah orang-orang yang terganggu kejiwaannya. Gangguan itu yang kemudian disebarkan ke masyarakat.

Kawan-kawan non muslim, menunggu saya yang sedang sholat Jum'at ketika kita janjian mau jalan. Gak masalah bagi mereka menunggu di depan masjid dan mendengarkan ceramah. Karena ceramahnya juga bukan ceramah liar seperti banyak yang terjadi seperti sekarang ini. 

Bahkan saya masih ingat, kita mau main billiard, tapi saya harus mengaji dulu, maka kawan-kawan non muslim menunggu saya pulang ngaji, mereka menunggu di depan musholla. Habis ngaji, kita jalan bareng ke tempat penyewaan billiard. Dan mereka tidak pernah menjadi muslim walau mendengarkan pengajian. 

Saat mau natalan, acara di gereja banyak muslim berkumpul, pulang gereja salam-salaman. Saat sholat idul fitri di lapangan, disekelilingnya banyak non muslim menunggu, pulang sholat salam-salaman. Gak ada yang diteror dosa, gak ada yang merasa bersalah dan gak ada yang akhirnya berpaling dari agamanya. 

Beberapa hari lalu saya dan beberapa petinggi partai fit and proper test anggota DPRD bitung, kita mau pilih siapa yang duduk sebagai wakil ketua DPRD bitung, saya bertanya, apakah kerukunan beragama di sulawesi utara masih terjaga? mereka menjawab kita tidak bisa diadu domba. Alhamdulillah..

Jadi saran saya, kepada para kepala daerah dan para oknum pemuka agama yang masuk ke ruang privat, belajarlah menjadi Indonesia, belajarlah dari sifat asli bangsa ini, belajarlah ke sulawesi utara, dimana ruang antara manusia dan Tuhan tidak populer untuk diperbincangkan apalagi diperdebatkan. 

1 comment: