Breaking

Wednesday, 27 November 2019

Agnes Monica, diantara ISIS dan Hizbut Tahrir


Saya pernah katakan pada Almarhum ayah saya, bahwa beliau itu bukan orang "Pribumi", karena wajahnya kayak orang Pakistan. Kakek saya dari ayah saya, sangat pakistan. Ayah saya tertawa dan bilang, memang beliau ada turunan dari timur tengah. Makanya ayah saya tidak pernah persoalkan soal suku, karena kalau ditelusuri, kita bisa jadi bukan "Pribumi"

Suatu saat saya bicara dengan kawan membahas mengenai budaya, saya bilang, lihat betawi, apakah tidak ada campuran budaya china disana? ada.. contohnya, lihat busana pengantin betawi bahkan penamaan pun berbau china.

Makanan pun tidak luput campur tangan dari luar. Misalnya ada Mie aceh, mie itu berasal dari china bukan dari aceh. Tahu sumedang, tahu itu dari china juga. Bahkan Wayang pun itu tidak murni dari bumi nusantara. Jadi kalau mau dibedah satu persatu, maka kita akan menemukan banyak percampuran didalamnya. 

Musik dangdut yang kita katakan musik asli Indonesia, tetap jika dibedah, maka ada unsur arab dan india di dalamnya. Memang Dangdut bukan musik arab dan India, tapi ada unsur-unsur Arab dan India di dalamnya. Mau tidak mau kita harus akui ada campuran dari luar dalam tubuh musik dangdut. 

Apakah itu salah? tentu tidak, karena semua manusia asalnya dari satu ibu, yaitu Siti Hawa. Apakah tahu sumedang bukan tahu dari Indonesia? Kalau tidak ada bumbu lain yang diracik orang dari sumedang, maka tahu hanya akan menjadi tahu bukan tahu sumedang, artinya tahu sumedang adalah makanan khas Indonesia. Musik dangdut adalah musik Indonesia. 

Indonesia tidak akan pernah ada jika tidak ada perbedaan. Indonesia tidak akan pernah ada jika tidak beragam etnis, Indonesia tidak akan pernah ada kalau tidak beragam suku, budaya, agama, kerajaan dan sebagainya. Indonesia adalah perbedaan, Indonesia lahir atas kesepakatan dari perbedaan. Indonesia tidak menyatukan perbedaan tapi mewadahi semua perbedaan dalam satu payung yang bernama Indonesia. 

Orang keturunan Arab, keturunan China, keturunan Pakistan, keturunan Belanda dan sebagainya ada di Indonesia. Mereka sudah menjadi bagian dari etnis di setiap pulau di nusantara ini. Mereka semua berjuang melawan penjajah, mereka semua ikut menyepakati dan menyetujui terbentuknya negara Republik Indonesia. Setelah terbentuk, maka mereka semua adalah orang Indonesia. 

Saya tidak akan masuk dalam argumentasi bahwa Agnes Monica salah atau benar ketika bicara mengenai darah Indonesia yang kini menjadi polemik, karena ada banyak argumentasi disana dan setiap orang punya argumentasi untuk membela atau menyalahkan Agnes. Bukan mau cari aman, tapi dasar sebagai patokan untuk berargumentasi menurut saya bias.

Karena darah Indonesia itu terbagi dua. Ada secara pengakuan atas kesepakatan dan ada juga secara genetik. Saya mau pakai yang mana? makanya saya katakan bias. Saya tidak bisa berargumen tanpa dasar yang jelas. Yang satu berargumen gunakan dasar genetik dan yang satu berargumen gunakan dasar kesepakatan, maka tidak akan pernah ketemu. Perdebatan itu muncul jika menggunakan dasar yang sama, itupun jika ada ruang tafsir, kalau tidak sama itu bukan perdebatan namanya dan tidak ada yang perlu diperdebatkan.

Kalau pakai argumen kesepakatan, maka Agnes salah. Kalau pakai argumen genetik, Agnes tidak salah. Tapi kalau Agnes mengatakan dia bukan Warga Negara Indonesia, maka tidak ada ruang bagi Agnes untuk dibela, karena dasarnya jelas, beliau ber KTP Indonesia. Bahkan ruang perdebatan tidak ada lagi, karena tidak ada tafsir lagi untuk hal tersebut. 

Sudahi polemik ini, yang pasti dengan adanya kasus Agnes, membuka ruang bagi kita untuk menggali lagi soal Indonesia. Indonesia itu adalah kumpulan perbedaan. Makanya kenapa Indonesia tidak bisa menerima ISIS dan Hizbut Tahrir? Karena mereka anti perbedaan. Ada segelintir orang di Indonesia yang mengaku pemuka agama, tapi anti terhadap perbedaan. Makanya mereka anti Pancasila dan anti terhadap Islam, karena mereka menganut Khilafah. Dimana Khilafah itu anti terhadap perbedaan. Sedangkan Pancasila tidak anti perbedaan dan Di Quran, Al-Hujurat:13 menyatakan, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dan menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal-mengenal. Dan Khilafah menentang hal itu. 

Maka mari kita pertentangkan dan usir Khilafah dari bumi Indonesia bukan Agnes Monica. Karena sekali lagi, kasus Agnes Monica, patokan untuk dipertentangkan dan diargumentasikan bias, kalau Khilafah jelas. Patokannya Pancasila dan Quran, dimana konsep mereka bertentangan dengan Pancasila dan Quran. Itu yang harus kita pertentangkan.. 

No comments:

Post a Comment