Breaking

Sunday, 29 March 2020

Lockdown sudah dilakukan, tapi masih teriak lockdown. Ini biadab! ada kepentingan politik!


Apa beda Lockdown dengan Karantina? kan sama saja kata mereka. Tentu saja berbeda.. kalau di negara lain mereka pukul rata semua, kalau di Indonesia tidak, ada yang namanya aturan kekarantinaan kesehatan yang diatur dalam UU No. 6 Tahun 2018. 

Apakah cuma beda istilah saja? tentu tidak.. 

Berdasarkan aturan kekarantinaan kesehatan, karantina itu ada 3 Jenis. Karantina rumah, Karantina Rumah Sakit, Karantina Wilayah. Dan karantina ini bukan untuk yang positif terinfeksi virus, tapi yang diduga kena virus atau suspect. Kalau yang sudah terkena virus, sudah jelas dikarantina di Rumah Sakit khusus untuk disembuhkan. Hal ini berdasarkan pasal 8 dan pasal 1 angka 6, mereka mendapatkan mendapatkan pelayanan kesehatan dasar sesuai kebutuhan medis, kebutuhan pangan, dan kebutuhan kehidupan sehari-hari. 

Bagaimana dengan karantina bagi yang masih diduga atau suspect? 

Karantina rumah adalah Karantina bagi penghuni rumah yang diduga terinfeksi virus karena di rumah itu ada yang positif terinfeksi virus dan sudah dibawa ke Rumah sakit untuk ditangani. Seisi rumah di karantina, menunggu hasil laboratorium, apakah penghuni rumah tersebut ada yang terpapar virus dari penghuni yang sudah terinfeksi sebelumnya. 

Jika dari hasil laboratorium penghuni rumah tersebut dinyatakan negatif virus, maka karantina rumah dicabut, jika ada yang terinfeksi, maka langsung dibawa ke Rumah Sakit. Banyak kejadian sepasang suami istri, yang istrinya terinfeksi virus, tapi suaminya tidak, padahal satu rumah dan satu tempat tidur. 

Lalu ada karantina Rumah Sakit, sama seperti karantina rumah. Ya namanya rumah sakit tentu tempat orang sakit berobat, tapi khusus untuk wabah seperti virus corona ini, jika ada yang terinfeksi saat di Rumah sakit, maka Rumah Sakit itu di karantina, namanya Karantina Rumah Sakit. Memang agak sulit namanya Karantina rumah sakit untuk kasus wabah corona, karena penyebarannya tidak langsung ada reaksi saat itu. Ya tentu saja karena UU kekarantinaan kesehatan bukan UU yang dibuat khusus untuk virus corona, UU ini sudah ada sebelum wabah virus corona ada.

Karantina Wilayah, ini karantina yang lagi heboh disuarakan bahkan disamakan dengan lockdown versi luar negeri, tentu ini sangat-sangat berbeda. Karantina wilayah ini sama seperti karantina rumah, cuma areanya lebih luas. Karantina wilayah adalah karantina yang dilakukan jika disuatu wilayah terjadi banyak karantina rumah. 

Misalnya begini, di sebuah RT (Rukun Tetangga) ada satu orang terkena virus corona, maka yang terkena virus dibawa ke RS, penghuninya di rumah tersebut di karantina rumah. Tapi ternyata di RT yang sama, ada beberapa rumah yang terinfeksi juga, dan berdasarkan hasil LABORATORIUM , sudah terjadi penyebaran penyakit ANTAR tetangga di RT tersebut, maka statusnya bukan lagi karantina rumah, tapi karantina wilayah dan yang di karantina adalah wilayah RT tersebut, bukan satu provinsi apalagi satu negara.

Karantina wilayah kok bukan karantina provinsi? bukankah wilayah itu artinya Provinsi atau Kabupaten/kota? Ini banyak yang salah paham lalu teriak lockdown model seperti diluar negeri, dimana hantam kromo, semuanya disamakan. Pola lockdown mereka berbeda sekali dengan pola karantina sesuai UU di negara ini. 

Di UU Kekarantinaan Kesehatan Pasal 18 ayat 3, menyatakan bahwa Tempat atau lokasi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan di wilayah dapat berupa rumah, AREA, dan rumah sakit. Area itu berdasarkan penjelasan pasalnya adalah wilayah rukun tetangga (RT) atau rukun warga (RW), kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, atau wilayah lainnya yang ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi dan/atau pengujian laboratorium.

Berdasarkan pasal 18 ayat 1, cukup jelas bahwa karantina wilayah itu diselenggarakan di tempat atau LOKASI yang diduga Terjangkit penyakit menular dan/atau Terpapar, bukan melebar sampai satu provinsi bahkan satu negara. 

Misalnya yang terjadi di Masjid Jami Tamansari Jakarta, ada ratusan orang yang dikarantina karena ditemukan ada yang terinfeksi virus corona, itu namanya Karantina Wilayah! Kalau Karantina Wilayah dianggap sama dengan Lockdown, artinya Lockdown sudah dilakukan, tapi kenapa masih pada berteriak mendesak lockdown? artinya apa? artinya mereka yang teriak lockdown itu tidak mengerti apa itu Lockdown, mereka ingin melakukan lockdown Negara! Ini yang sesat dan berbahaya, tujuannya sudah negatif bukan untuk kepentingan rakyat tapi kepentingan politik. Mereka ingin lockdown model di luar negeri, lalu menuntut pemerintah harus membiayai kebutuhan dasar rakyat, ya tentu gak bisa! karena itu tidak ada dalam UU, kecuali UU nya diubah.

Makanya saya katakan dalam tulisan saya sebelumnya, Lockdown itu di UU tidak dikenal sehingga kebutuhan hidup masyarakat tidak ditanggung pemerintah. Ini tulisannya…

BERDASARKAN PERINTAH UU, KEBUTUHAN HIDUP MASYARAKAT TIDAK DITANGGUNG PEMERINTAH SAAT LOCKDOWN



Kembali lagi, jika satu RT di karantina wilayah, apakah RT yang lain harus dikarantina juga? tentu tidak, karena selama tidak ditemukan ada yang terinfeksi dan suspect, maka warga di RT sebelah masih bisa jualan sayur, jualan gorengan, jualan nasi uduk dan sebagainya untuk mencari nafkah. Karena mereka tidak dikarantina tentu mereka harus mencari nafkah, hanya mereka harus patuh dengan apa yang diputuskan oleh pemerintah, yaitu menjaga jarak dan membersihkan diri selalu agar tidak terinfeksi. 

Makanya saya katakan, jangan mengukur baju orang dengan badan kita, tidak semua orang bisa bertahan membiayai hidup tanpa bekerja selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Sehari tidak bekerja saja, mereka sudah kebingungan.  Pak Jokowi melihat itu, dia melihat seluruh lapisan masyarakat bukan hanya lapisan masyarakat tertentu saja. Banyak yang tidak paham, memaksakan lockdown model luar negeri. Ini jelas sudah disusupi kepentingan politik untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah. Ini perbuatan biadab, memanfaatkan wabah untuk kepentingan kekuasaan. 


JOKOWI TIDAK MENGUKUR BAJU RAKYAT DENGAN BADANNYA


Misalnya di sebuah provinsi ada 31.000 RT (Rukun Tetangga), yang kena virus hanya ada di 10 RT, apakah seluruh RT yang 31.000 itu dikarantina atau Provinsi atau bahkan negara yang dikarantina? Tentu tidak harus satu provinsi atau negara yang di karantina, tapi hanya area yang terkena saja dan tetap waspada mengikuti apa yang sudah diputuskan pemerintah, yaitu melakukan jaga jarak dan membersihkan diri.

Tapi apakah boleh dilakukan untuk semuanya seperti diluar negeri? ya boleh saja, tapi UU nya diganti. Ingat.. UU di sebuah negara dibuat dengan melihat kondisi masyarakat di sebuah negara, makanya di pasal 11 ayat 1 UU kekarantinaan kesehatan ini menyebutkan bahwa: "Penyelenggaraan  Kekarantinaan Kesehatan pada Kedaruratan  Kesehatan  Masyarakat  dilaksanakan oleh  Pemerintah  Pusat  secara  cepat dan  tepat berdasarkan  besarnya  ancaman,  efektivitas, dukungan  sumber  daya, dan  teknik  operasional dengan  mempertimbangkan  kedaulatan  negara, keamanan,  ekonomi,  sosial,  dan  budaya"

Semoga dapat dipahami..

No comments:

Post a comment