Breaking

Wednesday, 1 April 2020

Penjual makanan kok tidak berbenah?


Pembeli makanan berbenah, penjual makanan juga harus berbenah. Kalau tidak berbenah, siapa yang berani membeli makanan mereka dalam kondisi wabah virus corona ini? Jangankan orang lain, saya sendiri sudah beberapa minggu ini puasa membeli gado-gado kesukaan saya, karena penjualnya tidak berbenah. 

Penjual gado-gado itu sampai sekarang tidak menggunakan masker dan sarung tangan plastik saat mengambil dan mengolah sayuran. Begitupun Penjual pukis, siomay dan bakso yang jadi langganan jajanan saya, mereka tidak berbenah. Mereka masih seperti biasa, tanpa masker dan sarung tangan juga tidak membersihkan tangan setelah melayani pelanggan.

Beda dengan penjual sayur di pasar atau gerobak dorong, walaupun tidak menggunakan masker, sarung tangan dan tidak membersihkan tangan, tetap dibeli, karena bukan makanan siap saji. Sayur, ikan, tempe, tahu dan sebagainya dibersihkan terlebih dahulu dan dimasak sendiri oleh pembeli sebelum di konsumsi, kalau penjual makanan itu sudah siap dikonsumsi.

Pak Jokowi memikirkan bagaimana para pekerja harian seperti penjual makanan bisa mendapatkan penghasilan, tapi jika tidak berbenah, akan mati dengan sendirinya, karena para pembeli tidak nyaman jika membeli makanan dari penjual yang tidak berbenah. Mereka takut ada virus dimakanan yang dijual..

Tapi kalau sudah berbenah, bagaimana mau beli jika orang tidak keluar rumah? tentu saja orang tetap keluar rumah, selain masih ada yang orang yang tidak bisa bekerja di rumah, juga orang yang tinggal dirumah pasti keluar rumah untuk mencari makanan atau bahan makanan. 

Atau bagaimana kalau dengan ojek online? tentu bisa, tapi kalau penjualnya tidak berbenah, sama saja, orang tidak akan mau memesan gado-gado misalnya. Jadi penjual selain harus berbenah dalam menggodok makanan, juga harus berbenah dengan membuat kemasan yang aman untuk bisa dibawa oleh ojek online.

Saya jujur sekarang ini tidak mau membeli donut kesukaan istri saya lewat online. Kenapa? Saya tahu bahwa toko donut itu sangat steril, tapi saya tidak yakin dengan ojek onlinenya, bisa jadi donut pesanan saya jadi tidak steril ketika sudah berada ditangan mereka. 

Makanya kalau mau donut, saya beli langsung ke tokonya. Mereka semua pakai masker dan sarung tangan, dan saat mengambil donut di oven sampai saat mau dikemas, mereka menggunakan capitan kue. Semuanya terlihat sangat steril, tapi jika dibawa oleh orang yang tidak steril, tentu donut itu jadi tidak steril.

Pembeli tidak mungkin bisa memilih pengemudi ojek yang rapi dan bersih, penjual juga tidak mungkin menolak pengemudi ojek yang tidak rapi dan bersih, maka penjual harus mengemas makanan dengan baik. Misalnya kardus donat harus dibungkus rapat dengan plastik (biasanya pakai Vacuum Sealer) sehingga tidak ada celah di kardus makanan tersebut,

Biasanya kotak donut tidak dibungkus lagi, kotak donut dimasukkan di plastik jinjing saja. Kali ini harus dobel. Selain plastik jinjing, juga kotak donut harus dibungkus rapat dengan plastik. Sehingga ketika dibawa ojek online, pembeli merasa nyaman karena kotak kardus terbungkus rapat. 

Begitupun dengan penjual gado-gado, setelah dia berbenah dalam menggodok makanan, ketika makanan akan dibawa ojek online, plastiknya dobel, sehingga yang tersentuh oleh ojek online hanya plastik jinjingnya saja, bukan plastik utama apalagi kertas pembungkus gado-gado. Pembeli merasa nyaman..

Bisa saja orang lain tidak berfikiran seperti saya, tapi bisa juga ada banyak yang berfikiran seperti saya, mereka takut makanan yang dijual ada virus corona yang menempel di makanan. Makanya tidak heran jika sekarang banyak penjual makanan yang kehilangan pembeli..

Kalau penjual makanan berbenah, maka akan menimbulkan kenyamanan bagi pembeli. Saya saja ingin sekali makan gado-gado, tapi karena saya tidak nyaman melihat penjualnya, maka saya kuatkan untuk tidak membelinya. Kalau dia sudah berbenah, pasti saya beli karena saya nyaman..

Semoga pandangan ini bisa bermanfaat bagi para penjual makanan.

No comments:

Post a comment