Breaking

Wednesday, 15 April 2020

Tidak ada gunanya PSBB Pembatasan moda Transportasi jika....

Pic: Okezone

Usul saya terkait teknis penerapan aturan PSBB, Transportasi yang mengangkut penumpang harus DIPERBANYAK, Karena berdasarkan Permenkes 9 Tahun 2020, yang DIBATASI itu adalah JUMLAH PENUMPANG yang naik kendaraan umum, bukan JUMLAH KENDARAAN UMUM.

Jika dalam aturan teknis jumlah penumpang untuk setiap transportasi penumpang dibatasi 50% dari kapasitas, maka jumlah unit harus ditambah 100%. Misalnya selama ini tersedia 100 unit angkutan, dengan pembatasan jumlah penumpang, maka angkutannya harus jadi 200 unit.

Jadi yang tadinya satu unit kapasitasnya berisi 10 penumpang, dengan adanya PSBB, jadi 5 Penumpang. Artinya untuk 10 penumpang, disediakan 2 angkutan umum, sehingga tidak ada penumpukan penumpang di terminal. Kalau tidak begitu, maka tidak ada gunanya pembatasan jumlah penumpang.

Lalu bagaimana bisa dapatkan tambahan 100 unit secara cepat? mudah saja.. misalnya butuh 100 angkot lagi di satu trayek, maka mobil pribadi yang sudah terdaftar bisa dikasih trayek untuk mengisi kebutuhan unit itu. Sehingga tujuan pembatasan penumpang YANG NAIK KENDARAAN, bisa terealisasi.

Begitupun dengan Kereta Rel Listrik (KRL), Misalnya jadwal KRL setiap 15 Menit singgah di stasiun pada jam sibuk, maka kini dibuat per 5 menit. Jadi setiap 5 menit ada KRL, sehingga orang tidak perlu berdesak-desakan dan berebut naik kereta karena takut telat sampai ke tujuan.

Di setiap stasiun, antrian bisa dibuat berjarak 1 meter antar calon penumpang. Semuanya pasti manut, tidak perlu berdesakan, karena KRL singgah setiap 5 menit. Walau di dalam KRL sudah dibuat berjarak, tapi tidak ada gunanya jika diluar KRL, penumpang berdesakan tidak berjarak.

Jadi.. angkutan umum unitnya diperbanyak dan waktu tunggu KRL semakin dipercepat dengan menggandakan jumlah perjalanan, sehingga penumpang, baik saat menunggu dan naik angkutan umum atau KRL, jarak satu dengan lainnya tetap terjaga, sehingga terhindar dari penularan virus corona. 

PSBB, tidak membuat semua tempat kerja libur di wilayah tersebut, sehingga setiap orang tidak boleh bekerja di wilayah tersebut. Makanya unit angkutan umum harus digandakan selama wabah ini belum sirna. Jangan dikurangi sama sekali penambahan unit tersebut. Semakin sedikit penumpang di unit, semakin baik. 

Kalau perlu ada subsidi bagi angkutan umum, teknisnya bisa diatur agar bisa diketahui berapa kali angkutan umum melakukan perjalanan, sehingga tidak ada akal-akalan. Jangan sampai angkutannya gak jalan, tapi menerima subsidi. 

Saya pikir itu saja, karena jika angkutan umum tidak ditambah unitnya dan KRL tidak dipersempit waktu tunggu, maka tidak ada gunanya pembatasan jumlah penumpang di angkutan umum atau di KRL, karena mereka berdesak-desakan saat menunggu transportasi. 

No comments:

Post a comment