Breaking

Sunday, 17 May 2020

Iuran BPJS naik sebelum wabah, dan turun saat wabah masih berlangsung


Saya sekeluarga dari awal menjadi peserta BPJS kesehatan kelas I. Ketika iurannya naik 100%, saya merasa masih mampu, sehingga tidak turun kelas. Ketika wabah corona melanda, bisnis saya ikut juga terganggu, tapi sampai detik ini, saya belum berencana turun kelas. Masih ada budget untuk ikut iuran BPJS kesehatan kelas I.

SEBELUM merebak wabah virus corona pada awal januari 2020, iuran BPJS Kesehatan sudah naik 100%. Saat iuran naik 100%, rakyat miskin iurannya tetap gratis. Jadi tidak ada pengaruhnya bagi rakyat miskin dengan kenaikan iuran BPJS Kesehatan sebelum merebak wabah virus corona.

Dungu kuadrat jika ada yang mempertanyakan, "Kenapa saat terjadi wabah virus corona, iuran BPJS kesehatan naik?"

Karena sebelum wabah, saya sudah membayar iuran sebesar 160 ribu perbulan/orang dan saat wabah virus terjadi yang merusak berbagai bisnis, saya masih membayar sebesar jumlah yang sama.

Kalau bisnis saya terganggu sampai beberapa bulan kemudian dan saya akhirnya merasa berat membayar iuran sebesar 150 ribu perbulan/orang (turun dari sebelumnya 160 ribu perbulan/orang), maka saya akan turunkan iuran ke kelas II. 

Lalu bagaimana dengan rakyat miskin? Mereka tetap masih gratis..

Artinya yang merasa tidak sanggup membayar iuran itu saya, bukan rakyat miskin. Jadi kalau mau suarakan, maka saya akan suarakan soal diri saya, bukan suarakan suara rakyat miskin. Karena yang kena dampak itu saya, bukan rakyat miskin.

Jangan karena malu, lalu berlindung dibalik rakyat miskin.

Makanya jika bisnis Agus Yudhoyono tiba-tiba hancur dan dia tidak sanggup ikut BPJS kelas I, ya dia pindah saja ke kelas III. Jika Agus jatuh miskin, ya bukan salah iuran BPJS, bisa jadi karena dia tidak bisa mengelola bisnis dengan baik.

Malah kalau mau jujur, besaran iuran BPJS terbaru ini turun dari sebelumnya. 

Harusnya bersyukur, saat wabah masih berlangsung, iuran turun, bukan malah menyalahkan pemerintah atau malah sok membela rakyat miskin, padahal rakyat miskin tidak perlu dan tidak meminta dibela karena mereka sama sekali tidak dirugikan.

Jika Agus Yudhoyono tidak sanggup membiayai iuran keluarganya, maka agus boleh daftar sebagai rakyat miskin tapi tidak boleh menyalahkan pemerintah, karena dia jatuh miskin bukan disebabkan iuran BPJS Kesehatan kelas I dan II naik. Apalagi sebagai rakyat miskin, iuran Agus dan keluarga dibayarkan pemerintah.

Jelas ya.. Kenapa saya katakan sama sekali gak ada hubungannya antara kenaikan iuran BPJS dengan Wabah corona dan tidak ada kerugian sama sekali bagi rakyat miskin akan kenaikan iuran BPJS kesehatan. Malah iuran BPJS turun dari sebelumnya.. 

Semoga paham.. 

No comments:

Post a comment