Breaking

Sunday, 3 May 2020

Menunggu jawaban Najwa Shihab

Foto: Tempo
Setelah menonton tayangan Najwa Shihab, yang berjudul Kepada Tuan dan Puan anggota DPR yang terhormat di sini


Saya agak bingung, ini produk jurnalistik atau produk pribadi? Karena kalau secara jurnalistik, menurut saya sudah melenceng, kalau pribadi, nama Najwa itu sudah melekat sebagai produk Jurnalistik. 

Tapi anggaplah ini produk pribadi Najwa..

Jika ditanya balik, kenapa anda masih siaran dan membahas tema lain di Mata najwa? Kenapa bukan fokus tema corona saja? Tentu anda akan menjawab, urusan kita bukan hanya corona saja kan? begitu pun dengan DPR, urusan mereka bukan mengurusi corona saja, tapi banyak hal lain. 

Pertanyaan yang paling tepat sesuai dengan pernyataan najwa adalah, kenapa anda masih siaran mata najwa saat pandemi seperti sekarang ini? Najwa pasti akan menjawab, itu tugas saya, saya harus menjalankan tugas. Kalau begitu, kenapa anda nyinyir ketika DPR menjalankan tugas? 

Lagian apa yang akan diurus DPR untuk urusan corona? Kebijakan untuk urusan corona ada di wilayah eksekutif, sedangkan DPR itu legislatif. Saya tanya lagi, eksekusi apa yang harus dilakukan oleh DPR terkait corona ini? Saya yakin anda tidak tahu akan menjawab apa. Tapi saya tunggu jawaban anda..

Apa yang anda ingin DPR lakukan jika tugas mereka tidak boleh dijalankan? Apakah mereka harus ikut terjun ke rumah sakit? Apakah mereka harus ikut terlibat membuat peraturan menteri, keputusan presiden, peraturan kepala daerah atau surat lurah? Saya yakin anda tidak mampu menjawab

Kalau DPR tidak bekerja, anda akan mengeluarkan nyinyiran bahwa mereka dibayar tapi tidak bekerja. Ketika mereka bekerja, anda akan nyinyir, bahwa saat pandemi mereka malah bekerja. Ketika mereka ikut campur kerjaan eksekutif, anda akan nyinyir bahwa itu bukan kewenangan DPR. Jadi mau anda bagaimana? 

Prioritas RUU yang akan dibahas, juga sudah melewati berbagai proses yang bisa jadi tidak mudah di DPR, sehingga Najwa, maaf terkesan receh ketika menyatakan DPR buru-buru seperti mengejar setoran. Najwa sudah masuk pada ranah yang tidak dia kuasai sama sekali.. 

Semua harus seimbang, jangan sampai karena pandemi ini semuanya terhenti. Prioritas tetap ada, tapi bukan berarti yang lain tidak dilakukan. Najwa Shihab harus tetap bekerja mencari nafkah walaupun tetap waspada. Jika tidak, dia bisa bebas dari corona, tapi sakit, karena kurang makan. 

Tentang Satgas covid DPR, Najwa pun tanpa cross check, sudah menyiarkan ke publik, itu jelas bertentangan dengan profesinya. Yang jelas, soal APD Najwa keliru karena itu bukan APD. Dan soal herbal (jamu) sudah lulus BPOM. Soal ini biar satgas yang menjelaskan, karena dana yang digunakan satgas, dana pribadi..

Oh iya mbak Najwa, kalau ini nyinyiran anda pribadi, jangan gunakan kata KAMI, karena anda bukan anggota DPR yang dipilih oleh rakyat, anda adalah pekerja yang digaji atau dibayar oleh stasiun tv. Karena saya tidak pernah meminta anda untuk mewakili saya menyampaikan opini anda. 

Pesan saya, jangan terlena pujian bahwa anda orang keras dan berani. Ingat pujian itu berhubungan dengan profesi anda. Profesi anda yang membuat anda "dibolehkan" untuk mengorek pertanyaan ke narasumber dari berbagai sisi. Anda dipuji bukan karena opini pribadi anda. 

Apalagi opini anda tidak menggunakan data yang valid, sehingga keluar jalur. Saya tunggu jawaban anda, dan saya harap anda segera bangun dari buaian pujian. 

Mbak Najwa.. anda smart dalam mengolah pertanyaan, tapi anda tidak smart dalam mengolah pujian. 

No comments:

Post a comment