Breaking

Thursday, 14 May 2020

Yang keberatan iuran BPJS Kesehatan naik, bukan orang miskin, tapi orang mampu yang kikir


Iuran peserta mandiri BPJS kesehatan naik, berdasarkan Perpres 64/2020. Kenaikan ini mendapatkan reaksi dari berbagai pihak. Ada yang mengatakan pemerintah tidak memikirkan rakyat miskin bahkan ada yang mengatakan bahwa dalam kondisi seperti pendemi corona begini, kenapa pemerintah begitu tega menaikkan iuran BPJS Kesehatan? Lalu kemudian secara berjamaah, beberapa kelompok yang memang selama ini berseberangan menjudge pemerintah terkait hal ini. 

Saya coba mengetahui bagaimana kenaikan iuran BPJS kesehatan tersebut, oh ternyata iuran yang naik itu adalah iuran bagi peserta kelas I dan Kelas II, untuk peserta kelas III tidak naik dan peserta yang selama ini menjadi peserta BPJS Kesehatan PBI (Penerima Bantuan Iuran), tidak ada perubahan. Artinya yang berubah hanya untuk iuran peserta kelas I dan Kelas II. 

Pertanyaan saya, dimana kerugian bagi rakyat miskin terkait kenaikan iuran BPJS ini? Karena mereka sama sekali tidak dirugikan. Lalu yang berteriak selama ini siapa?? 

Saya masih ingat ketika saya berdebat dengan anggota DPR RI dari PKS di sebuah stasiun TV tentang kenaikan iuran BPJS kesehatan, saya bilang ke dia yang saat itu menjudge pemerintah, kalau ada rakyat yang tidak mampu membayar iuran karena miskin, iurannya kan dibayarkan oleh pemerintah. Lalu masalahnya dimana? Apakah anda sebagai anggota DPR tidak mampu membayar iuran? Atau mau saya bayarkan iuran anda?? 

Saya tidak akan masuk pada pembahasan kenapa pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan untuk kelas I dan kelas II, tapi yang pasti, tidak ada pemerintah yang mau menaikkan iuran jika tidak ada alasan yang cukup kuat. 

Jadi alasan bahwa kenaikan iuran BPJS merugikan rakyat miskin, terbantahkan. Artinya.. yang protes iuran BPJS kesehatan naik menyulitkan orang miskin adalah orang-orang mampu yang tidak mau berbagi dengan orang miskin, tapi berlindung dibalik orang miskin. Kalau ada orang mampu yang mendadak jatuh miskin, maka dia bisa pindah ke kelas III atau bisa ikut BPJS kesehatan PBI, sehingga ketika sakit bisa berobat secara gratis sama seperti ketika dia masih ikut membayar iuran di kelas I atau kelas II. Kalau mampu tapi mau gratis, itu manusia kikir dan tamak namanya. 

Clear ya.. ini sebenarnya tidak ada masalah. Yang membuat masalah itu adalah orang-orang mampu yang tamak dan kikir tapi teriak-teriak tidak mampu. Karena yang naik itu adalah iuran yang biasanya diikuti oleh orang-orang yang mampu. 

Selain berlindung dibalik orang miskin, orang yang menjudge juga berlindung dibalik pandemi corona yang sedang melanda dunia sekarang ini. Mereka katakan, kenapa iuran BPJS kesehatan naik saat pandemi seperti ini? Pertanyaannya adalah, sebelum ada pandemi corona melanda dunia, iuran BPJS kesehatan juga sempat naik, apakah diprotes juga? Ternyata di protes juga! Jadi mau ada pandemi atau tidak, tetap diprotes. Lalu kenapa pakai alasan pandemi kalau begitu? Ngawur kan? 

Saya melihat yang gembar-gembor ini selain orang mampu yang tamak dan kikir, adalah orang-orang yang memang ingin menyerang pemerintah. Orang-orang yang punya agenda tertentu untuk membuat kekacauan di negeri ini sehingga mereka bisa mengeruk keuntungan. Nah, yang seperti itu lebih hina daripada orang kikir dan tamak, karena mereka berlindung dibalik orang miskin untuk membuat kekacauan. 

Maka dari itu, bagi masyarakat Indonesia, jangan sampai terprovokasi oleh orang-orang tamak, orang-orang kikir dan orang-orang yang ingin membuat kekacauan yang berlindung dibalik kalimat “Membela rakyat miskin”, toh yang dilakukan pemerintah bukan untuk kepentingan pribadi mereka, tapi untuk kepentingan Bangsa dan Negara ini. 

1 comment:

  1. Apa semua orang miskin dpt bantuan dari pemerintah...masih banyak kalangan bawah..yg di bantu pemerintah hanya sekian %....

    ReplyDelete