Breaking

Wednesday, 17 June 2020

Apakah Pernyataan AM. Hendropriyono tentang pengkhianat bangsa, selaras dengan Pengakuan Sultan Hamid II?


Saya ditanya tentang adanya laporan dari pihak keluarga Sultan Hamid II kepada AM. Hendropriyono, terkait pernyataan beliau yang mengatakan bahwa, Sultan Hamid II itu pengkhianat bangsa. Saya awalnya tidak mau berkomentar, karena itu sudah masuk pada ranah hukum, karena sudah ada laporan. 

Tapi karena ada beberapa orang yang terus bertanya, dan saya terlalu capek untuk menjelaskan satu persatu, maka saya paparkan dalam tulisan, agar bisa dibaca dan tidak perlu saya jelaskan. 

Begini, kalau saya mengatakan bahwa AM. Hendropriyono berbicara sejarah berdasarkan tulisan dan kesaksian dari pihak lain bukan dari Sultan Hamid II itu sendiri, pasti akan ada perdebatan panjang. Makanya saya tidak mau berdebat untuk sesuatu yang sama-sama punya alasan untuk melakukan penafsiran, sehingga bagi saya itu bukan hal yang patut untuk diperdebatkan. 

Setiap orang bisa menganalisa menafsirkan pemikiran orang lain, tapi setiap orang tidak mungkin bisa menyatakan bahwa tafsiran dan analisanya terhadap pemikiran orang lain itu adalah yang paling benar. Karena akan muncul analisa dan tafsiran, yang berbeda, yang masing-masing akhirnya akan saling berargument untuk mempertahankan analisa dan tafsirannya. Saya hindari itu… 

Saya bilang mari lihat saja dari pengakuan Sultan Hamid II saat beliau menjalani persidangan. Beliau itu ditangkap pada tanggal 5 April 1950 dan disidang mulai tanggal 25 Februari 1953. Beliau dituduh terlibat konspirasi dengan Westerling untuk menyerangan gedung Pejambon dan membunuh tiga orang pejabat pertahanan RI. 

Apakah Pernyataan AM. Hendropriyono itu benar? Mari lihat dalam Pledoi Sultan Hamid II, beliau mengatakan: 

“Perintah penyerbuan itu timbul pada ketika pembicaraan dengan Westerling pada tanggal 24 Januari 1950 siang. SEBELUMNYA sama sekali tak ada maksud untuk MELAKUKAN PENYERBUAN ITU,” 
Sultan Hamid II, Pleidoi 25 Maret 1953

“Syukur Alhamdulillah, serenta saya agak tenang, ialah sesudah mandi, INSYAFLAH saya akan perbuatan saya YANG TIDAK PATUT ITU,” 
Sultan Hamid II, Pleidoi 25 Maret 1953

“Perbuatan para terdakwa dalam peristiwa 3 Juli 1946 jauh LEBIH BERAT DARIPADA PERBUATAN SAYA. Akan tetapi dalam di dalam perkara itu, kepada hoofddaders (pelaku utama) hanya dijatuhi hukuman empat tahun penjara dengan dipotong waktu dalam tahanan,” 
Sultan Hamid II, Pleidoi 25 Maret 1953

Dari pernyataaan Sultan Hamid II dalam Pleidoinya, bisa kita lihat, Statement pertama, ada kata SEBELUM, jadi sebelumnya tidak ada maksud tapi setelah bertemu Westerling baru ada maksud. Statement kedua, INSYAF dan TIDAK PATUT. Insyaf itu artinya menyadari akan kekeliruannya dan dia mengakui perbuatannya tidak patut. Statement ketiga, membandingkan perbuatan terdakwa lain dengan dirinya. 

Silahkan dilihat, apakah pernyataan AM. Hendropriyono selaras dengan pernyataan Sultan Hamid II atau tidak? Kalau selaras, ya bisa dijelaskan selarasnya dimana? kalau tidak selarasnya, tidak selarasnya dimana? 

Jadi memang lebih enak jika ingin menganalisa, ya menganalisa dari pernyataan yang bersangkutan, bukan menganalisa dari pernyataan pihak lain untuk yang bersangkutan, karena pernyataan pihak lain itu akan berbeda dengan pernyataan pihak lainnya lagi. 

Silahkan saja menganalisa, apakah selaras atau tidak? 

No comments:

Post a comment