Breaking

Monday, 22 June 2020

dr. Tirta tidak terima di bully? ini cara mudah saya menghadapi bully..

foto: detik.com
Saya baru membaca berita dr. Tirta yang akan melaporkan para pembully nya ke pihak berwajib. Saya sempat heran, ternyata dr. Tirta yang terlihat ceplas-ceplos baik sikap dan bahasanya, ternyata tidak mampu mengatasi bully-an. Saya tidak menyalahkannya, karena masing-masing punya kemampuan sendiri, hanya heran saja. 

Begini.. Bully itu tidak dapat dibenarkan, karena membuat fitnah, menghina, memaki, memelintir  lalu disebarkan secara masif selama 24 jam sehari. Semakin banyak yang membully semakin tidak baik bagi korban. Dan itu tujuan dari pembully. Korban menderita seperti yang dialami dr. Tirta

Saya coba berbagi pengalaman, bagaimana sikap saya dalam menghadapi bully-an terlebih di media sosial. Siapa tahu dari pengalaman saya, ada hal-hal yang bisa dicontoh dalam menghadapi bully. terlebih bagi orang-orang yang sering terpublikasi di media, sasaran bully itu tidak dapat dihindari, sebaik apapun tetap saja akan ada pembully-nya. Hadapi ini sebenarnya simpel sih...

Pertama, Bully itu ada tujuannya, gak mungkin gak ada tujuan. Kalau di politik seperti saya, bully itu terjadi karena dua hal, pertama karena ada ketersinggungan dari petinggi terhadap saya dan kedua orang yang ingin memanfaatkan saya untuk bisa tampil di media, bahasa zaman sekarang adalah Pansos atau panjat sosial. Tidak ada lain selain itu. Bully itu berbeda dengan kritik, kalau kritik ada ilmunya, kalau bully isinya fitnah, maki-maki, memelintir, menghina dan sebagainya, lalu disebarkan secara masif. 

Untuk melakukan bully secara masif caranya mudah, begini caranya..

Logikanya begini, mana ada orang yang mau selama 24 jam sehari membully orang lain yang tidak dia kenal? bahkan jika ada Ketua umum sebuah organisasi diganggu, tidak ada anggotanya yang selama 24 jam sehari membully orang yang mengganggu ketuanya. Semua itu bisa diatur, kalau ingin membully lawan politik atau mau Pansos, bayar akun tim bully, selesai. Mau berapa lama, tergantung negosiasi. Besok akun yang membully saya, akan berbalik membully lawan saya jika saya gunakan jasanya. 

Makanya saya tidak pernah mau menanggapi berkali-kali, karena kalau saya terus menanggapi itu akan sia-sia, karena akun-akun itu bekerja 24 jam sehari. Tujuan petinggi yang tersinggung, agar saya malu dan menutup akun sehingga tidak lagi mengganggu dia. Tujuan yang Pansos, agar saya menanggapi sehingga dia bisa memanfaatkan untuk mengekspose namanya. itu makanya kenapa saya tidak menanggapi berkali-kali..  

Saya punya media sendiri, kalau ada fitnah, pelintiran, makian dan sebagainya, saya jelaskan saja, setelah itu saya biarkan, toh ketika ada isu baru, mereka menghilang juga. Seberapa kuat sih membayar tim bully hanya untuk satu isu saja? Paling kuat sebulan, itupun sudah habis miliaran rupiah.

Misalnya yang terbaru saya difitnah tidak kuliah, saya jelaskan saja di website saya, saya sebarkan dan bagi saya cukup, kalau ada yang mau cari tahu kebenarannya, tinggal baca di website saya. simpel kan? 


Apa hubungannya SBY dengan Fitnah terhadap Teddy Gusnaidi?


Kedua, Yang pertama tadi adalah saya menggambarkan situasi dari sang pembully, kini masuk pada diri kita sebagai orang yang di bully. 

Menjadi apa adanya dalam dunia politik, membuat saya bebas dan tidak terbebani dengan pencitraan maupun pesanan sponsor. Banyak yang tidak apa adanya, dibuat-buat, ketika mentok akhirnya mencari pembenaran sana sini, yang akhirnya membuat mereka stres sendiri. Ini banyak terjadi, penyakit bagi orang-orang yang sering mendapatkan publikasi. 

Banyak yang heran sama saya, dengan kesibukan yang padat, banyak bully-an, saya masih bisa ketawa-ketiwi, dan tidak ada satupun dari akun pembully saya block apalagi saya pidanakan. Padahal zaman sekarang sangat mudah menemukan pemilik akun itu..

Media sosial menjadi tempat eksis, karena ingin dianggap hebat, ingin dilihat keren, sehingga membuat pernyataan, sikap dan pandangan yang bukan dirinya dan ini terus dipertahankan agar supaya terus terlihat hebat. Padahal ini menjadi beban. Beban itu akhirnya menjadi sangat berat ketika menghadapi bully-an. Karena ada ekspektasi besar, ada harapan besar yang ketika tidak terwujud membuat kita down, ditambah nanti ketika ada yang menghina, memaki dan mentertawakan kita, itu yang membuat kita menjadi stres.

Karena bukan diri sendiri, karena kepura-puraan, sehingga ketika kepura-puraan itu dipertanyakan, tentu kita tidak dapat menghadapinya, karena itu bukan diri kita sendiri, stres jadinya. Stres karena kepura-puraan terbongkar, stres karena harapan dipuja dan dihormati tidak terjadi.

Saya bukan politisi pujangga, yang senang merangkai kata tanpa data dan fakta demi popularitas. Fokus pada pokok bahasan dan gak perlu dibumbui. Itu yang membuat saya merasa waras hingga hari ini, karena tidak terbebani harus menjadi pujangga politik. Makanya tidak heran kalau orang mengatakan jika dalam diskusi dan debat, saya selalu langsung ke inti dari masalah, tidak berpanjang-panjang kata seperti para politisi lainnya yang merangkai kata indah demi mendapatkan simpati dan pujian. Memang itu saya, saya tidak mau terbebani dengan kepura-puraan dan saya terlalu malas untuk belajar berpura-pura apalagi menjadi pujangga politik.

Gak perlu pakai bumbu-bumbu yang tidak bisa kita kuasai, tapi karena tuntutan pencitraan, maka harus dilakukan. Butuh pencitraan demi mendapatkan pembeda dari yang lain, tapi itu akan menjerat dan membebani.  Ketika mendapatkan serangan, tumbang..

Saya selalu katakan ke kawan-kawan, hidup dan sikap kalian jangan bergantung pada komentar, baik komentar menghujat maupun memuji. Harus punya sikap, bukan terbawa dengan situasi dan kondisi. Memang tidak semua orang mampu, tapi jika dilakukan pasti akan bisa, toh komentar tidak membuat kita kaya raya. Makanya ketika ada yang menuduh saya penjilat, saya bilang emang saya penjilat. Ketika ada yang menuduh saya dibayar pemerintah, saya bilang emang. Itu yang tidak diharapkan oleh pembully, yang mereka harapkan adalah kita membela diri, sehingga bisa terus memainkan bully-annya. Buat saya dituduh penjilat dan sebagainya, tidak membuat saya jatuh miskin, lalu kenapa harus capek membela diri?

Biarkan mereka capek memikirkan kita selama 24 jam sehari, jangan malah kita yang capek mikirin serangan mereka, kecuali kalau itu benar aib atau kita melakukan kejahatan, itu hal beda. Kalau tidak, kenapa harus resah? kalau benar itu aib kita, ya akui saja, toh mau ditutupi bagaimanapun kalau sudah terbongkar, ya terbongkar saja.

Saya itu bisa santai hadapi bully-an bukan karena sok santai, tapi karena saya tidak punya beban pencitraan. Godaan dalam politik adalah pencitraan. Kalau kalian sudah bisa lewati hal itu, pasti santai, karena ketakutan dan keresahan itu muncul dari menjaga kepura-puraan yang akhirnya membuat perdebatan pada otak kita sendiri. 

Tapi tidak semua orang bisa seperti saya, maka saya tidak dalam posisi mendukung atau tidak mendukung dr. Tirta melaporkan akun-akun tersebut. Kalaupun dilaporkan, ambil positifnya saja, bisa jadi nanti akan ketahuan siapa yang membayar akun-akun tersebut. 

Kelihatan kok, akun yang riil sama yang tidak. Yang riil, paling kritik tidak sampai fitnah dan menghina.

Tapi kalau mau tanya saran saya, saya sarankan biarkan saja, toh nanti hilang dengan sendirinya. Cobalah jadi diri sendiri, jangan terlena dengan pujian dan jangan resah dengan kritikan. Toh, tidak bisa membuat kita kenyang dan kaya raya. Penyakit itu muncul dari keresahan kita, keresahan untuk mempertahankan citra keren yang bukan diri kita. 

No comments:

Post a comment