Breaking

Monday, 1 June 2020

Jangan biarkan anak-anak menjadi korban Covid-19


Menuju New Normal, ada satu tema yang menjadi pembicaraan di setiap keluarga saat ini, yaitu bagaimana pelaksanaan New Normal di sekolah? Apa sekolah dapat menjamin anak-anak akan patuh pada protokol? Bagaimana pengawasan sekolah saat mereka pulang? Dan banyak pertanyaan lainnya..

Pertanyaan itu terbangun berdasarkan fakta dilapangan bahwa, anak-anak itu mudah lalai dalam menjaga jarak, lalai menjaga kebersihan dan semua hal yang menjadi saran pemerintah agar terhindar dari virus. Anak-anak cenderung berinteraksi lepas dengan kawan-kawannya.

Jangankan anak-anak, orang dewasa saja banyak yang lalai untuk mematuhi protokol covid-19. Orang dewasa yang sudah mampu membedakan mana bahaya dan mana tidak, masih sering lalai, sehingga sangat wajar jika para orang tua saat ini khawatir dan bingung jika sekolah dibuka kembali.

Sangat penting bagi pemerintah, khususnya kementerian pendidikan memikirkan dan memutuskan hal ini. Anak-anak Indonesia harus tetap belajar, tapi jangan sampai mereka menjadi korban atas kepolosan mereka. Mereka belum bisa bertanggungjawab atas diri mereka sendiri.

Sampai detik ini, Covid-19 belum bisa ditaklukkan, tapi jika kita terus menghindar, ekonomi bangsa ini perlahan tapi pasti akan hancur. New Normal harus dilakukan, agar orang bisa kembali beraktifitas dan usaha kembali dibuka seperti biasa. Hanya bedanya, ditambah protokol covid-19.

Bagaimana dengan dunia pendidikan? Apakah hal ini bisa diterapkan? Saya rasa agak sulit dan sangat beresiko, karena yang dihadapi ini adalah anak-anak, orang yang belum bisa bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Mereka tidak layak ikut dalam peperangan ini. Tidak adil bagi mereka ikut serta dalam New Normal.

Untuk kepentingan ekonomi, New Normal harus dilaksanakan, walaupun begitu, kini akan banyak perusahaan mulai menjalankan metode Work From Home (WFH) dalam New Normal. Karena konsep WFH ini sudah mulai dilakukan jauh sebelum dunia terpapar wabah corona. 

Dengan adanya wabah corona, dunia usaha akhirnya mempercepat pelaksanaan metode WFH, wabah menjadi ajang uji coba yang tepat. Metode WFH ini dipakai di seluruh dunia dan cukup berhasil. Metode ini berhasil karena didukung dengan kemajuan teknologi yang tersedia saat ini.

Kalau pekerjaan bisa dilakukan dari rumah, maka sangat dimungkinkan juga belajar dari rumah, khususnya selama wabah ini belum ada obatnya. Apalagi metode belajar dari rumah sudah dipraktekkan selama wabah ini, walaupun memang masih harus diperbaiki pola dan waktu pengajarannya. 

Saat ini jumlah anak yang terinfeksi covid-19 meningkat dan korban jiwa mulai berjatuhan. Padahal saat ini anak dalam pengawasan penuh orang tua dirumah, tidak bisa dibayangkan, apa jadinya jika anak lepas dari pengawasan orang tua, mereka berinteraksi di sekolah.

Akan banyak orang tua yang mengambil keputusan untuk tidak menyekolahkan anaknya sampai covid-19 ini bisa teratasi. Orang tua tidak ingin membiarkan anak-anaknya terancam virus yang belum ada obatnya ini. Akan banyak anak Indonesia kehilangan kesempatan belajar jika ini dibiarkan..

Anak-anak yang dirugikan, jika tidak berangkat ke sekolah, mereka tidak mendapatkan pelajaran, jika berangkat ke sekolah, kemungkinan mereka terinfeksi virus corona sangat besar. Ini menjadi pilihan yang sulit bagi orangtua dan kerugian bagi anak-anak.

Sekali lagi, anak-anak itu belum bisa bertanggungjawab terhadap diri mereka sendiri, pemerintah harus segera memutuskan hal ini, jangan sampai banyak anak yang putus sekolah karena tidak ada kepastian dan jangan sampai banyak anak menjadi korban karena ketidakpastian ini.

No comments:

Post a comment