Breaking

Tuesday, 30 June 2020

Kerja Menteri adalah Pekerjaan yang paling mudah


Dibandingkan menjadi pengusaha, Pekerjaan yang paling mudah adalah menjadi Menteri, asalkan memenuhi syarat, yaitu bernyali diatas rata-rata. Tanpa itu, mau sepintar apapun, maka kerja Menteri itu hanya menunggu gajian dan menikmati fasilitas sebagai pejabat negara.

Menteri tidak perlu memikirkan keuntungan, tidak perlu memikirkan strategi yang mendalam, tidak perlu memikirkan membayar upah pekerja, tidak perlu memikirkan kerugian dan banyak hal lain yang tidak perlu dipikirkan oleh menteri dibandingkan pengusaha. Hanya butuh nyali diatas rata-rata.

Tapi bukannya banyak menteri yang dari kalangan pengusaha? Pengusaha bukankah punya nyali dalam memutuskan? Iya.. tapi kalau pengusaha resikonya dia sendiri, siapa yang mau kritik? Tapi kalau menteri, kebijakannya bisa dikritik banyak orang. Makanya gak semua punya nyali..

Jadi Menteri pendidikan misalnya, apakah harus pengalaman menjadi guru? Ternyata tidak. Tapi ketika menjadi menteri, semua informasi soal pendidikan tersaji lengkap, tinggal bagaimana menteri menganalisa dan membuat kebijakan dari berbagai informasi yang dia dapatkan.

Misalnya, belajar online dirumah, masalahnya bukan di guru-gurunya, tapi di orang tua murid. Tidak semua orang tua murid mampu beli kuota untuk video online. Nah, kementerian bisa bekerjasama dengan provider, buat jaringan khusus, dan harga khusus yang disubsidi oleh kementerian.

Ini sebenarnya hal yang sangat mudah karena menjadi keluhan banyak orangtua murid. Tinggal bagaimana mengisi kebutuhan itu dan tidak peduli jika ada tudingan bahwa menteri ada kongkalingkong dengan provider. Nyali itu yang dibutuhkan selain kemampuan melihat masalah.

Atau misalnya saat ini, perusahaan di seluruh Indonesia terkena dampak covid-19, modal dan tabungan sudah terkuras, ketika New Normal dijalankan, apakah otomatis perusahaan-perusahaan itu bisa berjalan dengan normal lagi? Tentu tidak.. ya menteri buat kebijakan dong!

Contoh kecilnya begini, ada warung kopi, dia punya pekerja 2 orang. Ketika PSBB, warung tutup, gak ada yang belanja. Pemilik warung gak punya pemasukan, maka dia makan sehari-hari bersama pekerjanya dari isi warung, modal warung dan tabungan pribadi. Habis sudah uangnya..

Apakah dia bisa membuka warung lagi setelah PSBB dicabut? Ya tidak.. karena dia sudah tidak punya isi warung, tabungan dan juga modal, bahkan untuk sewa tempat dia tidak sanggup. Ya pemerintah melalui kementerian isi kebutuhan itu, agar ekonomi bangsa ini bergerak!

Apakah kebijakan itu akan mendapat sorotan? Tentu.. kalau Menteri yang tidak punya nyali diatas rata-rata, dia akan berfikir ribuan kali untuk melakukan itu. Tapi kalau yang bernyali, dia tidak peduli omongan, dia fokus bagaimana mengisi kebutuhan itu agar ekonomi bergerak..

Belum lagi soal pergerakan isu yang membuat negara ini ribut terus. Hanya Menteri yang punya nyali diatas rata-rata yang bisa membungkam para pemfitnah dan penyebar isu, bukan yang membiarkan atau malah mencari aman dengan retorika-retorika kosong.

Kondisi negara aman, kebutuhan untuk membangkitkan ekonomi dipenuhi, maka bangsa ini akan sehat kembali. Ini tergantung para pembantu Presiden yang punya nyali diatas rata-rata, karena menjadi menteri itu pekerjaan yang sangat mudah bagi orang-orang bernyali diatas rata-rata.

Covid-19 ini membuat Presiden Jokowi lebih mudah menilai menteri-menterinya, kondisi saat inilah kemampuan asli para menteri terlihat. Mana Menteri yang punya nyali diatas rata-rata dan mana menteri yang tidak punya nyali, yang kerjanya hanya menghitung hari menunggu gaji..

Kemampuan asli orang itu akan terlihat ketika menghadapi masalah, jika kondisi normal, tentu tinggal menjalani program yang sudah ada sebelumnya, jika disuruh untuk mengatasi masalah, tidak semua mampu. Segera reshuffle menteri-menteri yang tak bernyali Pak Presiden..

No comments:

Post a comment