Breaking

Thursday, 3 September 2020

Kalau buat aturan covid "banci", mending batalkan saja


Beberapa kota di Jawa barat sudah menerapkan tutup usaha jam 18:00 dan jam malam mulai pukul 20:00, artinya tidak ada aktivitas warga mulai jam segitu.

Sayangnya itu hanya retorika saja, ini yang saya katakan bahwa New Normal/PSBB dan sejenisnya DIPASTIKAN GAGAL..

Kenapa DIPASTIKAN gagal? Karena tidak ada konsistensi penerapan dan juga sanksi bagi yang  melakukan pelanggaran. Mini market tutup tapi kaki lima masih ramai, orang-orang masih berseliwiran di jam malam, angkot masih beroperasi dan sebagainya.

Bahkan.. kumpul-kumpul di setiap RT masih berjalan. Tidak ada penerapan terkait penutupan usaha yang dimulai jam 18:00 juga jam malam yang dimulai pada jam 20:00.

Jadi ini masih aturan gaya-gayaan, cuma agar terlihat keren aja di media, tapi isinya kosong.

Yang benar itu, jam 18:00 semua usaha tutup, yang melanggar di copot izin usahanya atau tidak boleh lagi berjualan bagi kaki lima, kalau masih kejadian juga sita barangnya, jika masih juga ya pidana. Jika sudah tidak ada yang berjualan, maka orang tidak ada yang keluar.

Orang mau keluar untuk apa? Belanja gak bisa, otomatis orang tidak keluar. Begitupun dengan angkutan umum, saat jam malam dimulai jam 20:00, maka operasi mereka berhenti, orang mau naik angkutan umum tidak bisa, sehingga mereka urung untuk keluar.

Dengan begitu, semua alasan dan fasilitas untuk orang bisa keluar rumah tidak ada lagi. Aparat dengan mudah memantau dan tidak perlu mengeluarkan banyak energi. Jadi benar-benar jam malam diterapkan, sehingga aturan bukan untuk gaya-gayaan agar dianggap bekerja.

Jam malam dan penutupan usaha juga harus sampai ke tingkat RT. Jika tidak sama aja bohong, karena akan terjadi kerumunan orang ditingkat RT. Tujuan menghentikan penularan DIPASTIKAN gagal, karena hanya memindahkan masalah saja dari area luar ke area dalam.

Setiap RW harus koordinasi dengan RT-RT dibawahnya, untuk menerapkan penutupan usaha dan jam malam. Atau jangan-jangan aturan ini dibuat tanpa ada aturan hingga ke tingkat RT? sehingga tingkat RT tidak ada guide dan dasar hukumnya?
 
Kalau tidak ada, ya makin gak jelas ini..

Saran saya, pak Ridwan Kamil panggil para kepala daerah yang menerapkan aturan penutupan usaha dan jam malam. Tanyakan, apakah mereka serius menerapkan aturan yang dibuat, atau cuma buat gaya-gayaan saja? 

Kalau cuma buat gaya-gayaan, mending dibatalkan saja, tidak ada gunanya.

Kalau mereka serius, maka harus serius juga, jangan buat aturan "banci". Pak Ridwan Kamil bisa menambah aturan, jika ada petugas yang terbukti membiarkan masyarakat melanggar aturan, maka petugas itu dikenakan sanksi, apakah pemecatan bahkan pidana, sehingga mereka tidak main-main.

Kalau mau buat aturan, ya konsekuensinya harus dilaksanakan. Jika aturan dibuat tapi penerapannya "banci", itu hanya buat gaya-gayaan saja, agar terlihat kerja di masa covid. 

Covid ini hal serius, harus ditangani secara serius, oleh orang-orang yang serius.

No comments:

Post a comment