Breaking

Sunday, 22 November 2020

Menunggu keberanian para calon kepala daerah menyatakan anti terhadap FPI


Pilkada 9 Desember 2020, beranikah para calon kepala daerah mengutuk FPI, Hizbut Tahrir, ISIS dan organisasi lainnya yang membuat keresahan di negara ini?

Saya yakin tidak berani, Karena mereka takut kehilangan suara kelompok-kelompok tersebut. 

Inilah rusaknya Pilkada langsung.

Jadi jika para calon kepala daerah bicara keberagaman dan toleransi dalam kampanye, itu hanya retorika SAMPAH, mereka tidak mungkin melakukan hal tersebut jika saat ini tidak berani menentang FPI, Hizbut Tahrir, ISIS dan kelompok yang membuat resah lainnya.

Hancurnya keberagaman dan tumbuhnya kelompok-kelompok yang membuat resah di Indonesia, 90% disebabkan oleh Pilkada langsung. Selain masyarakat saling sikut karena pilihan, Para kepala daerah juga punya kepentingan politik membiarkan kelompok-kelompok yang membuat resah itu berkembang..

Negara ini akan terus gaduh jika Pilkada langsung terus digunakan dan kelompok-kelompok yang membuat resah akan terus berkembang karena suara mereka dibutuhkan oleh para calon kepala daerah.

Gebrakan copot baliho hanya sementara saja, nanti juga hilang dan balik lagi ke kondisi sebelumnya

Mari setiap daerah menantang para calon kepala daerah membuat pernyataan tertulis diatas materai, bahwa jika mereka menjadi kepala daerah, mereka pastikan di daerah mereka tidak akan ada FPI, Hizbut Tahrir, ISIS dan kelompok yang meresahkan lainnya.

Berani tidak mereka?

Bahkan dalam pernyataan itu mereka menyatakan bahwa jika mereka tidak mampu melakukan hal tersebut, maka surat yang mereka buat ini bisa digunakan sebagai bukti sah untuk melengserkan diri mereka secara hukum dari jabatan kepala daerah.

Jika mereka tidak berani membuat, ya jangan bicara nasionalisme lah.

Jadi tujuan mereka maju untuk menjadi kepala daerah bukan untuk bangsa dan negara, bukan untuk kepentingan rakyat, tapi untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. 

Apakah tujuannya untuk bisnis, untuk cari nafkah atau apapun, terserah, tapi yang pasti bukan untuk bangsa dan negara..

Mudah saja menilainya, Jika para calon kepala daerah maju dalam Pilkada tujuannya demi kemaslahatan rakyat dan bangsa, tentu mereka akan mengutuk tindakan kelompok-kelompok yang membuat resah tersebut. Kalau tidak mengutuk, tentu tujuan mereka bukan untuk rakyat dan bangsa..

Mari kita tunggu pernyataan dari para calon kepala daerah, memastikan kelompok-kelompok tersebut akan dihilangkan dari daerah mereka dan jika mereka tidak berhasil mereka dicopot dari jabatan kepala daerah. 

Sehingga kita punya kepala daerah yang benar-benar mencintai bangsa ini..

Kalau cuma mendengar pidato calon kepala daerah tentang kebangsaan, kerukunan, toleransi dan sejenisnya tapi mereka tidak berani membuat pernyataan tersebut, maka tinggalkan saja, itu hanya retorika sampah yang tidak akan pernah bisa mereka lakukan. Buang-buang waktu saja..

No comments:

Post a comment