Breaking

Sunday, 7 November 2021

Yang menciptakan PCR dan Virus Covid-19, bukan Pak Luhut


Saya tanya, apa salahnya jika pak Luhut Binsar Pandjaitan punya bisnis? Lalu Said didu menanggapi, "Etika terendah seorang pejabat adalah membuat perusahaan untuk berbisnis untuk kebutuhan rakyat yang terkena bencana dan dia juga yang membuat aturannya." Lalu Said didu pertegas dengan kata.."Jelas?"

Saya jawab, sangat jelas saya melihat ketidakmampuan anda dalam membaca. Padahal saya sudah mengatakan sebelumnya bahwa masyarakat diberikan kebebasan untuk melakukan tes PCR dimana saja, bukan hanya di perusahaan yang ada sahamnya Pak Luhut, apa itu kurang jelas?

Tanggapan Said didu, jadinya seolah-olah Pak Luhut yang menciptakan Covid dan yang menciptakan produk PCR. Seolah-olah PCR hanya digunakan di Indonesia saja, sehingga Pak Luhut menggunakan kekuasaannya, memaksa rakyat menggunakan tes PCR untuk bepergian..

Tes PCR juga bukan mau-maunya Pak Luhut, tapi tes PCR adalah tes yang digunakan di seluruh dunia karena keakuratannya dan tes PCR ini direkomendasikan oleh WHO. Framingnya seolah-olah karena Pak Luhut punya saham di PT. GSI, maka beliau buat aturan harus gunakan PCR, ini ngawur..

Dan di Indonesia ada 742 Laboratorium yang diakui (sudah lulus tes tentunya) oleh Pemerintah sebagai syarat penerbangan, salah satunya PT. GSI yang baru diketahui belakangan ada saham Pak Luhut disana. Bukan hanya PT GSI saja yang diakui dan dijadikan syarat.

Tanggapan Said didu, seolah-olah perusahaan yang ada sahamnya Pak Luhut, adalah satu-satunya perusahaan yang boleh melakukan tes PCR di Indonesia, sedangkan perusahaan yang lain tidak boleh. Seolah-olah ada penunjukkan langsung ke perusahaan tersebut.

Seolah-olah Pak Luhut seperti ketika Pak Harto mengeluarkan Inpres tentang Pembangunan Industri Mobil Nasional, lalu yang menangani Mobil Nasional itu ditunjuk Perusahaannya Tommy Soeharto, anaknya Pak Harto, tidak ada perusahaan lain selain perusahaannya Tommy.

Saya jadi ingin menantang Said Didu dan rekan-rekannya untuk memberikan penilaian terkait Mobil Nasional yang diprakarsai oleh Presiden Soeharto dan ditangani oleh perusahaan anaknya. Saya tidak yakin Said didu dan rekan-rekannya punya keberanian menilai seperti ke Pak Luhut.

Said didu tidak membantah pernyataan saya bahwa pejabat boleh punya bisnis, artinya dia setuju dengan saya. Dia hanya menanggapi soal etika, sayangnya dia sangat kurang memahami persoalan, tapi bernafsu untuk menanggapi sehingga tanggapannya menjadi tidak jelas begini..

Saya pikir Said didu dan rekan-rekannya perlu banyak belajar membaca dan berpikir objektif, buang keberpihakan apalagi kebencian, sehingga mampu berpikir dan berpendapat dengan jernih. Oh iya.. jangan lupa ditunggu pendapatnya soal Mobil Nasional Tommy soeharto ya..

No comments:

Post a Comment