Breaking

Friday, 25 February 2022

Kenapa tidak ada yang menyebarkan isu suara Mesin Truk disamakan dengan suara adzan?


Kalau nonton video LENGKAP wawancara Menteri agama, itu jelas dia bicara soal SE 5 Tahun 2022 tentang pedoman penggunaan Pengeras suara bukan pedoman ibadah. Makanya Menteri bicara volume toa tidak boleh kencang-kencang apalagi dibunyikan secara bersamaan di lokasi yang berdekatan.

Menteri agama mengatakan kalau dibunyikan secara kencang dan bersamaan di lokasi yang berdekatan itu bukan lagi syiar tapi mengganggu. Jadi konteksnya jelas masih soal suara toa yang kencang, jika dilakukan secara bersamaan di lokasi yang berdekatan akan sangat mengganggu.

Jujur saja kita pasti punya pengalaman tidak nyaman dengan toa masjid/musholla yang terlalu kencang, sehingga memekakkan telinga. Suara orang ngaji jadi tidak enak di dengar, dan kita kesal karenanya. Jadi bukan ngajinya yang buat kesal, tapi suara kencang yang ganggu telinga kita.

Lalu Menteri MENGANALOGIKAN suara anjing menggonggong secara bersamaan di lokasi yang berdekatan dan juga MENGANALOGIKAN suara mesin Truk yang dinyalakan bersamaan di kiri kanan depan belakang kita. Jadi analoginya BUKAN HANYA ANJING tapi juga TRUK..

Yang tersebar di media sosial seolah-olah hanya suara adzan disamakan dengan suara anjing menggonggong, tidak ada yang menyebarkan bahwa suara adzan disamakan dengan suara mesin truk. Mungkin kalau disamakan dengan suara mesin truk, nilai sensasinya kurang, sehingga tidak punya nilai jual..

Kecuali kalau Menteri agama bilang begini, "tidak boleh terdengar suara adzan/pengajian/khutbah selain di dalam masjid dan mushola, karena mengganggu masyarakat beragama lain. Kalian tidak mau juga terganggu kan jika suara anjing tetangga non muslim menggonggong sahut menyahut?"

Nah kalau itu boleh kalian menuduh menteri menyamakan suara gonggongan anjing dengan suara adzan/pengajian/khutbah. Kalau ini, Menteri bicara soal penggunaan pengeras suara yang terlalu kencang, secara bersamaan di lokasi yang berdekatan sehingga membuat tidak nyaman.

Saya pikir cukup jelas dan tidak perlu lagi berebutan menghujat seorang Menteri agama yang ternyata seorang muslim juga. Apalagi konteks yang dibicarakan tentang pedoman penggunaan Pengeras suara bukan pedoman ibadah.

No comments:

Post a Comment