Breaking

Monday, 7 February 2022

Menyamakan Kasus Rizieq dengan kecintaan rakyat ke Jokowi, itu bodoh


Kerumunan saat Pak Jokowi datang ke sebuah daerah sudah pernah gue bahas tahun lalu, kini untuk urusan yang sama gue bahas lagi, karena yang mempermasalahkan juga orang-orang yang sama, yaitu para pendukung Rizieq Shihab.

Ini link berita statement gue ..

Mereka mau samakan kasus Rizieq dengan orang berkerumun ingin dekat dengan Presiden saat di Sumatera utara, tentu konyol.
Gue jelaskan lagi kekonyolan ini agar supaya masyarakat mengerti, kenapa rizieq ditahan untuk urusan covid ini.

Begini ya..

Rizieq itu dipenjara karena kasus penghasutan dan melanggar protokol ketika mengadakan acara. Sudah diingatkan oleh aparat masih juga ngeyel, maka Rizieq diproses hukum.
Pertanyaannya.. Apakah Pak Jokowi melakukan penghasutan dan melanggar protokol acara? Ternyata tidak.. lalu apa yang mau disamain?

Rakyat yang mengerubungi, karena kecintaan mereka pada Pak Jokowi, gak ada pasal pidananya. Kalau ada pasal itu, maka sangat mudah pidanakan orang. Gue bayar 100 orang datangi rumah Rizieq, alasannya karena cinta sama rizieq, maka Rizieq bisa langsung dipidana dan dipenjara..

Ketika Rizieq kembali ke Indonesia setelah kabur ke arab selama 3 tahun, banyak orang berkerumun menyambutnya, lalu orangnya Rizieq berdalih bahwa itu inisiatif umat menyambut Rizieq ke bandara, bukan mereka yang menyuruh.

Apakah Rizieq dipidana karena hal itu? Ternyata tidak..

Lalu kenapa mereka kaitkan Pak Jokowi dengan kasus Rizieq yang membuat Rizieq dipenjara?
Kecuali saat penyambutan Rizieq di Bandara dijadikan kasus dan Rizieq akhirnya dipenjara, itu baru boleh disamakan. Masalahnya Rizieq dipenjara bukan karena hal itu. Jangan sampai terkecoh ya..

Jadi sangat bodoh jika framing yang dibuat oleh kelompok Rizieq kalian percaya. Karena Rizieq dipidana bukan karena dia disambut orang-orangnya sendiri ketika tiba dibandara, tapi karena kasus penghasutan dan pelanggaran protokol saat mengadakan acara.
Ini hal yang berbeda..

Saya pikir cukup jelas ya.. jangan sampai kebodohan ini menular kemana-mana.

No comments:

Post a Comment