Breaking

Thursday, 3 February 2022

Tuduhan tentang Perempuan Kalimantan dijual, dijadikan budak seks, ternyata keliru. Sudah keliru kasusnya, keliru juga daerahnya..


Jujur saya tidak terlalu mengikuti kasus pernyataan tentang budak seks, tapi di pemberitaan muncul terus pernyataan bang Ruhut Sitompul. Pagi ini, sambil ngopi di teras, saya coba membaca, apa sih masalahnya sampai bang Ruhut berkoar-koar terus tentang pernyataan budak seks?

Ada twit dari seorang pegiat medsos: 

"Saat Hutan ditebang, banjir merendam rumah warga ± sebulan, perempuannya dijual ke China untuk dijadikan budak seks, anak² pada mati tenggelam di bekas galian tambang kalian pada diam, Tapi saat ada yang mengatakan "Tempat Jin Buang Anak" kalian Demo. Sebenarnya kalian siapa?"

Lalu selanjutnya disertai dengan berita-berita dari berita online sebagai bukti menguatkan pernyataannya.

Setelah saya membaca, ada beberapa hal yang keliru. Pertama, tahu darimana perempuan Kaltim dijual ke china untuk dijadikan budak seks? Oh ternyata dari berita, Polisi pulangkan wanita korban perbudakan, berkat laporan masyarakat.

Loh!? Artinya TIDAK ADA yang diam dong seperti yang dia katakan di twitnya? Bahkan sudah berhasil dipulangkan.

Kedua, apakah benar perempuan Kaltim dijual ke china untuk dijadikan budak seks? Ternyata dari berita, ini mengenai Perempuan WNI menikah dengan Pria WN China. Disana mereka malah dipaksa bekerja dengan jam kerja panjang, tapi uang hasil kerja diambil oleh suami mereka.

Jadi tidak ada yang namanya dijual ke china untuk dijadikan budak seks. Mereka diperkenalkan ke pria WN china, di iming-imingi bahwa warga china ini kaya raya, sehingga terjadi pernikahan. Setelah menikah mereka dipaksa bekerja di pabrik, upahnya dikuasai.

Ketiga, karena merujuk pada pernyataan "Tempat Jin Buang Anak" nya Edy Mulyadi, maka pernyataan pegiat medsos itu ditujukan ke Kalimantan Timur. Sedangkan berita tentang perbudakan, itu warga kalimantan barat dan Jawa barat. Jadi selain sudah keliru kasusnya, keliru juga daerahnya.

Kalau berdalih bahwa ini untuk kalimantan bukan hanya kalimantan timur, tetap saja tidak ada perempuan kalimantan yang dijual untuk dijadikan budak seks. Lagian jika gunakan dalih itu, malah semakin melebar, jadi saran saya jangan gunakan alasan itu.

Apalagi dari pernyataan pegiat medsos tersebut tentang budak seks, dia menampilkan berita tentang orang tewas di bekas galian tambang Kaltim, jadi dia memang bicara tentang kalimantan timur, bukan daerah lain. Jadi dia harus buktikan ada warga Kaltim yang dijual untuk jadi budak seks.

Keempat, berdasarkan berita yang dia share, ternyata tidak ada wanita kalimantan timur, Kalimantan Barat dan Jawab barat yang dengan sadar dijual untuk menjadi budak seks ke WN China. Mereka menikah, lalu mereka dipaksa bekerja melebihi jam kerja. Ini dua hal yang sangat berbeda..

Jadi menurut saya, minta maaf sajalah agar masalah ini bisa selesai dan tidak berkepanjangan, biar bang ruhut juga gak terus bersuara, apalagi sampai saudara-saudara di kalimantan timur ikut bersuara.

No comments:

Post a Comment